Dari Riff Metal ke Suara Futuristik, Avenged Sevenfold Kembali Bongkar Pakem

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 18:29 WIB
Cover mini album Statica milik Avenged Sevenfold. (instagram/@avengedsevenfold)
Cover mini album Statica milik Avenged Sevenfold. (instagram/@avengedsevenfold)

SOLOBALAPAN.COM – Grup musik Avenged Sevenfold kembali membuat kejutan untuk para penggemarnya.

Tanpa teaser, count down, maupun pengumuman resmi di media sosial, grup musik asal California itu tiba-tiba merilis EP atau mini album berjudul Statica pada 24 Juli 2026.

Album ini berdurasi sekira 18 menit dan hanya berisikan empat lagu.

Empat lagu tersebut yakni Statica, Lights, Rejoice, dan Ashes.

Baca Juga: Kemeja Putih Sering Jadi Pilihan Saat Klarifikasi, Ternyata Warna Outfit Bisa Pengaruhi Persepsi

Namun yang menjadi perbincangan bukan sekedar kembalinya setelah terakhir merilis album Life Is A Dream… pada 2023, melainkan arah musik yang mereka pilih dianggap sangat jauh dari identitas Avenged Sevenvold selama ini. 

Selama lebih dari dua dekade, grup musik ini dikenal sebagai grup dengan aliran musik heavy metal dan hard rock.

Lagu-lagu mereka seperti Bad Country, A Little Piece of Heaven, Afterlife, hingga Hail to The King membentuk karakter mereka lewat riff gitar yang agresif, permainan drum yang energik, serta vokal khas Matt Shadows.

Baca Juga: Cinta di Era Swipe: Saat Hubungan Romantis Mulai Terasa Seperti Belanja Online

Karena itu, Statica hadir dengan dominasi synth elektronik, efek vokal robotik, auto-tune, hingga nuansa industrial dan electronic dance music, banyak pendengar mengaku sempat mengira mereka mendengarkan lagu dari band yang berbeda.

Reaksi tersebut langsung bermunculan di berbagai platform media sosial dan forum penggemar.

Salah satu komentar menuliskan bahwa dirinya adalah penggemar berat Avenged Sevenfold.

Namun setelah mendengarkan lagu dalam mini album Statica ini, ia merasa bingung.

Menurutnya, perubahan yang dihadirkan kali ini terasa terlalu jauh.

Ia berharap EP tersebut hanyalah ajang bereksperimen, bukan gambaran arah music Avenged Sevenfold ke depan. Ia merasa EP tersebut terlalu aneh. 

Komentar tersebut mengambarkan perasaan sebagian penggemar yang sebenarnya tidak menolak perubahan.

Mereka bahkan mengaku bahwa menyukai album “Life is But A Dream” yang juga dikenal eksperimental.

Baca Juga: Influencer Endang Yustika Sebut Threads Sebagai Platform Paling Toxic, Ada Apa Gerangan?

Namun menurut mereka, Statica terasa melangkah lebih jauh hingga sulit dikenali sebagai karya Avenged Sevenfold.

Beberapa menyebut eksperimen ini terlalu ekstrem, sementara yang lain bahkan merasa bahwa identitas dari grup musik ini mulai memudar. 

Meski begitu, tidak semua tanggapan bernada negatif.

Menariknya cukup banyak pendengar yang pendapatnya berubah ketika telah mendengarkan lagunya beberapa kali.

Kesan pertama memang terasa janggal, bahkan membingungkan. Namun setelah diputar berulang, mereka mulai menemukan melodi yang perlahan membuat lagu-lagunya terasa semakin menarik. 

Fenomena itu juga terlihat dari beberapa komentar penggemar.

Ada yang menyebut Statica sebagai tipe rilisan yang memang membutuhkan waktu untuk dinikmati atau dikenal dengan istilah grower.

Bahkan beberapa orang yang awalnya mengaku tidak menyukai EP tersebut akhirnya justru memutarnya berulang kali hingga menjadi salah satu rilisan yang paling sering mereka dengarkan beberapa hari terakhir. 

Meski mulai menikmati lagu-lagunya.

Sebagian pendengar tetap memiliki satu kesan yang sama. Mereka menyukai musiknya, tetapi masih sulit menghubungkannya dengan nama Avenged Sevenvold.

Kalimat seperti “it’s not bad, it’s just not Avenged Sevenvold” atau “jika dirilis dengan nama band lain mungkin akan lebih diterima” cukup sering muncul dalam diskusi para penggemar.

Baca Juga: Cinta di Era Swipe: Saat Hubungan Romantis Mulai Terasa Seperti Belanja Online

Di sisi lain, ada pula yang membela langkah tersebut. Mereka menilai Avenged Sevenvold memang sejak lama dikenal sebagai band yang tidak pernah ingin mengulang formula yang sama di setiap album. 

Sebenarnya perubahan arah musik bukanlah hal baru bagi Avenged Sevenfold.

Sejak merilis The Stage pada 2016, mereka mulai bereksperimen dengan progresive metal dan berbagai unsur music lain. Eksplorasi itu kemudian semakin terasa dalam album Life Is But A Dream… pada 2023 juga memecah pendapat penggemar.

Melalui Statica, eksperimen tersebut kembali dibawa ke level yang berbeda dengan pendekatan yang jauh lebih elektronik dan futuristik. 

Pada akhirnya, Statica menjadi salah satu rilisan Avenged Sevenfold yang paling memancing perdebatan.

Bagi sebagian penggemar, EP ini terasa terlalu asing dan meninggalkan ciri khas band yang mereka kenal.

Namun bagi yang lain, justru keberanian untuk terus berekspresi dan bereksperimen itu yang membuat Avenged Sevenfold tetap menarik untuk diikuti.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, satu hal yang sulit dibantah adalah Statica berhasil membuat banyak orang kembali membicarakan arah baru musik Avenged Sevenfold. (rastri rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Statica band metal Avenged Sevenfold musik