SOLOBALAPAN.COM - Ada kalanya seorang pelawak tidak dikenang dari lelucon dan humor yang dilontarkan, akan tetapi dari kehangatan yang ditinggalkan.
Begitulah sosok Temon Templar. Selama kurang lebih tiga dekade sosoknya kerap hadir menghiasi layar kaca dan mengundang gelak tawa jutaan penonton.
Kini Temon berpulang, meninggalkan duka mendalam pada jejak perjalanan di dunia hiburan Indonesia.
Temon, atau yang memiliki nama asli Simson Rarameha Ngadang, meninggal dunia pada Minggu (12/7) pukul 08.42 di RSUD Mampang, Jakarta Selatan.
Ia menghembuskan napas terakhirnya di usia 59 tahun saat perjalanan menuju rumah sakit karena mengalami serangan jantung.
Kabar duka ini petama kali dikonfirmasi oleh sahabat sekaligus rekan kerjanya, Abdel Achrian, pada akun instagram pribadinya. Sejak kabar tersebut menyebar, tak henti ungkapan bela sungkawa dari rekan industri hiburan maupun masyarakat yang tumbuh dengan karya-karyanya.
Lahir di Jakarta, 28 Desember 1966, Temon memiliki jalan hidup tak biasa. Ia merupakan lulusan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI).
Namun, panggung hiburanlah yang dijadikan pilihan untuk ia menabdikan bakatnya. Panggung ini melambungkan namanya, hingga terkenal dan terkenang baik di hati masyarakat Indonesia.
Dunia komedi yang awalnya menjadi batu lompatan, berubah menjadi batu pondasi yang menjadikan hidupnya berwarna.
Perjalanan karirnya dimulai dengan menjadi seorang penyiar di Radio Humor Suara Kejayaan (Radio SK).
Pengalaman tersebut yang membentuk cara berkomunikasi yang spontan, ringan, dan dibumbui dengan lelucon yang sopan menyapa telinga pendengar. Dari ruang siaran radio, Temon melebarkan sayap karirnya ke ranah televisi dan perlahan membangun nama sebagai comedian sekaigus actor.
Namanya semakin bersinar ketika berpasangan dengan Abdel Achrian dalam sinetrom komedi berjudul “Abdel dan Temon Bukan Superstar” pada 2008.
Kekompakan dan chemistry keduanya mampu menghadirkan humor sederhana, segar, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Kesuksesan sitkom ini berlanjut dengan serial lanjutan seperti Abdel dan Temon Masih Bukan Superstar, Bukan Abdel dan Temon Biasa, serta Abdel dan Temon Reunian.
Tak hanya di layer kaca, Temon juga menjajal ke dunia perfilman. Ia hadir membintangi sejumlah film seperti Setannya Kok Masih Ada (2011), Operation Wedding (2013), Epen Cupen the Movie (2015), Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015), hingga Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016).
Meski kerap memaikan pemain pendukung, kehadirannya selalu mampu menghadirkan warna dan menghidupkan suasana.
Eksplorasinya di dunia hibuan tidak berhenti di situ. Pada tahun 2014, Temon pernah merilis sebuah lagu berjudul Raja Disko. Ia juga aktif membintangi berbagai sinetron dan FTV.
Di antaranya Bajaj Bajuri, Awas Ada Sule, Jawara, Jali Preman Sholeh, Menolak Talak, hingga Para Pencari Tuhan Jilid 16: Kiamat Semakin Dekat.
Puluhan tahun berkarya, Temon telah menjadi bagian dari perjalanan komedi Indonesia.
Kini, sosoknya mungkin telah tiada. Tapi, tawa khas yang pernah dihadirkan akan terus hidup dalam ingatan penonton.
Di balik setiap peran yang dimainkan Temon meninggalkan pesan sederhana bahwa hiburan terbaik lahir dari kejujuran, kesederhanaan, dan kemampuan dalam membuat orang lain bahagia.
Kepergiannya menjadi duka bagi dunia hiburan tanah air sekaligus penanda berakhirya perjalanan seorang comedian yang mendedikasikan hidupnya untuk menghadirkan tawa. (ras/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto