SOLOBALAPAN, NASIONAL — Nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menembus level psikologis baru, yakni Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu gelombang reaksi dari publik luas.
Tak hanya pengamat ekonomi, sederet artis, selebritas, hingga kreator konten Tanah Air ikut menyuarakan pandangan mereka melalui media sosial.
Respons yang muncul sangat beragam dan mewakili perasaan masyarakat saat ini—mulai dari doa agar tetap bertahan, kebingungan, hingga kritik tajam dan sindiran satire yang dialamatkan kepada pemerintah.
Rangkuman Reaksi 12 Figur Publik Tanah Air
Untuk memudahkan Anda melihat ragam pandangan dari para pesohor negeri terkait anjloknya nilai tukar rupiah, berikut adalah rangkuman sikap mereka:
Baca Juga: Berbondong-bondong Naik Pelaminan, Ini 7 Pemain Timnas Indonesia yang Menikah dan Lamaran di 2026
| Nama Figur Publik | Nada Respons / Sentimen | Ringkasan Pandangan & Komentar |
| Jerome Polin | Simpati & Mendoakan | Mengingatkan ini adalah tantangan bersama dan mendoakan agar seluruh masyarakat Indonesia senantiasa sehat. |
| Livy Renata | Bingung & Mempertanyakan | Mempertanyakan siapa pihak yang patut disalahkan atas fenomena anjloknya rupiah ke angka 18 ribu. |
| Kemal Palevi | Satir / Sarkasme | Menyindir kenaikan ini dengan kalimat "Takbir!" dan berguyon menunggu momen "party" jika dolar tembus Rp20.000. |
| Denny Sumargo | Kewalahan (Overwhelmed) | Mengaku pusing mencerna banyaknya isu nasional yang meledak bersamaan (Seskab, MBG, Ruben-Sarwendah, hingga Dolar). |
| Ussy Sulistiawaty | Optimistis & Nasionalis | Mengungkapkan rasa cintanya pada Indonesia dan mengajak masyarakat untuk tidak menyerah serta bangkit bersama. |
| Dokter Tirta | Sarkasme Santai | Menanggapi dengan gaya santai bahwa beli tempe goreng masih pakai rupiah, sembari menyindir narasi "ekspor jos" dan "mata-mata asing". |
| Maarten / Maia Estianty | Prihatin & Religius | Mengeluhkan beban beruntun (dolar naik, pajak naik, potongan admin marketplace naik) dan mengajak masyarakat memperbanyak doa rezeki. |
| Nana Mirdad | Gelisah & Menunggu Aksi | Mempertanyakan absennya pernyataan resmi (official statement) dari pemerintah untuk menenangkan kepanikan warga. |
Sorotan Kritik Tajam dan Sindiran Menohok
Dari ke-12 figur publik tersebut, beberapa di antaranya menyoroti kebijakan pemerintah dengan kritik yang sangat tajam dan terbuka. Berikut adalah sorotan kutipan pedas dari para publik figur:
1. Bunga Zainal (Kritik Pidato Presiden)
Aktris ini menilai ada jurang pemisah yang besar antara pidato pejabat negara dengan realitas di lapangan yang dirasakan oleh rakyat kecil.
"Sudah nggak paham lagi sama pidato Pak Prabowo yang selalu mencoba menutupi keadaan negara ini... Konco-koncomu makin kaya raya tapi rakyatmu makin miskin dan kelaparan."
2. Fiersa Besari (Kritik Sikap Penyangkalan Pemimpin)
Penulis dan musisi ini menyebut bahwa angka di papan kurs mata uang adalah sebuah kejujuran telanjang mengenai kegagalan sistemik.
"Pemerintah bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja, tetapi melemahnya nilai tukar rupiah tidak bisa berbohong. Ada yang salah dengan negeri ini, dan yang lebih menyedihkan, para pemimpinnya seakan tidak mau menerima kenyataan."
3. Andhika Pratama (Sentil Rentetan Kebijakan Kontroversial)
Presenter ini menyindir berbagai proyek dan langkah pemerintah yang dinilai tidak peka terhadap penderitaan ekonomi di bawah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga aturan pajak baru.
"Terusin aja MBG-nya, terusin aja kopdesnya, terusin aja ke luar negerinya, terusin aja statement ngawurnya... terusin aja terus terus terus pecahin lagi rekornya."
4. Bintang Emon (Skakmat Narasi Pendukung Pemerintah)
Komika ini menggunakan gaya komedi untuk mematahkan argumen pihak-pihak yang mencoba menormalisasi pelemahan rupiah dengan dalih menguntungkan sektor ekspor.
"Kalau dolar naik industri ekspor jadi bagus duitnya jadi banyak. Cakep dia, geser titiknya cakep... Siapa yang ekspor? Bapak lu? Saudara lu? Nyokap lu? Teman lu?"
Pelemahan rupiah ini jelas bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan indikator yang memengaruhi daya beli dan hajat hidup orang banyak.
Wajar jika para pesohor ini turut menggunakan platform mereka untuk menyuarakan keresahan yang mewakili suara rakyat.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo