SOLOBALAPAN, ENTERTAINMENT — Ruang publik dihebohkan oleh unggahan emosional dari Calvin Dores, putra dari musisi dan produser legendaris Indonesia, mendiang Deddy Dores.
Di tengah himpitan ekonomi ibu kota yang kian menjepit, Calvin secara terbuka mengeklaim berniat menjual salah satu bola matanya demi jaminan masa depan sang buah hati.
Pernyataan ekstrem tersebut langsung memicu gelombang simpati, sekaligus keprihatinan mendalam dari warganet yang tidak menyangka anak dari sosok sekondang Deddy Dores harus berada di titik nadir kehidupan.
Bukan untuk Makan Hari Ini, Tapi Masa Depan Anak
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Minggu (17/5/2026), Calvin membenarkan kabar yang viral tersebut.
Ia meluruskan pandangan miring publik dengan menegaskan bahwa niat nekatnya mempromosikan donor mata komersial ini bukan untuk menyambung hidup sehari-hari, melainkan murni demi tabungan masa depan anak-anaknya.
"Ya saya bukan buat kehidupan sehari-hari, tapi lebih uang buat masa depan anak. Makanya saya mau jual mata saya ini. Udah bulat Mas, karena saya gak mau melihat istri dan anak saya kesusahan," ungkap Calvin Dores dengan nada getir.
Calvin mengaku sering dirundung rasa bersalah dan merasa menjadi "ayah yang gagal" ketika membandingkan kemewahan masa kecilnya dulu dengan kondisi anak-anaknya sekarang yang hidup jauh dari kata berkecukupan.
Fakta di Balik Realitas Hidup Tanpa Warisan
Banyak masyarakat mengira anak dari seorang maestro musik yang melambungkan nama Nike Ardilla dan Nafa Urbach ini hidup bergelimang harta warisan.
Namun, Calvin menegaskan dirinya sama sekali tidak menerima aset atau harta peninggalan pasca-sang ayah wafat akibat penyakit jantung pada 17 Mei 2016 silam.
Sebagai informasi, Deddy Dores (1950–2016) adalah sosok genius di belantika musik tanah air yang pernah memperkuat band rock legendaris God Bless, Super Kid, hingga Freedom of Rhapsodia.
Jaga Harga Diri, Tolak Mengemis Keberadaan Donatur
Sebelum memilih jalan nekat ini, Calvin mengaku sudah bekerja keras di industri kreatif dengan menjual karya lagu dan bidang lainnya. Sayangnya, pendapatan tersebut perlahan terkikis oleh tingginya biaya hidup di Jakarta.
Rencana ekstrem ini sebenarnya sempat ditentang keras oleh rekan sesama pencipta lagu hingga beberapa figur politisi yang mencoba menawarkan bantuan.
Namun, ia memilih menolak segala bentuk uluran tangan yang didasari atas rasa iba.
"Saya bukan tipikal orang yang minta-minta Mas. Saya enggak mau merepotkan banyak orang, enggak mau dikasihani. Jadi, saya memilih langkah ini," tegasnya berprinsip.
Alami Depresi Berat dan Mati Rasa
Di akhir keterangannya, Calvin tidak menampik bahwa keputusan ini merupakan akumulasi dari kondisi psikologisnya yang didera depresi berat.
Hal itu membuatnya mati rasa terhadap risiko kehilangan fungsi penglihatan sebelah.
"Jujur, kondisi saya sekarang sudah depresi banget lah. Saya sudah tahu seisi dunia seperti apa, apa yang perlu saya lihat lagi? Kalau mata saya hilang satu juga gak masalah kok. Kalau memang mata saya laku dan berguna biar orang bisa melihat, hubungi saya aja mau bayar berapa," pungkasnya pasrah.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo