SOLOBALAPAN, HIBURAN – Minggu pertama penayangan film garapan sutradara Kuntz Agus, “Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?”, sukses mengubah studio bioskop menjadi ruang kontemplasi yang penuh air mata.
Film yang diadaptasi dari novel best-seller karya Khoirul Trian ini bukan sekadar drama biasa, melainkan sebuah surat cinta bagi mereka yang tumbuh dalam fenomena fatherless.
Mengisahkan sosok Dira (Mawar De Jongh), seorang anak sulung perempuan yang harus menavigasi hidup tanpa kompas dari seorang ayah.
Dira digambarkan kehilangan sosok pembimbing, cinta pertama, sekaligus pelindung utama, yang membuatnya harus bertarung sendirian melawan kerasnya dunia.
Fenomena Fatherless yang Nyata
Relevansi film ini diperkuat oleh data dari BKKBN (Kemendukbangga) per 15 Desember 2025, yang mencatat bahwa ketidakhadiran peran ayah terhadap anak-anak di Indonesia mencapai angka 25,8%.
Angka yang cukup tinggi ini menjelaskan mengapa suara sesenggukan penonton terdengar begitu nyata di setiap sudut bioskop.
Dalam acara Gala Premiere, sederet selebritas seperti Harris Vriza dan Haviza Devi Anjani turut hadir dan tak kuasa menahan haru.
Film ini dianggap berhasil memotret lubang di hati anak-anak yang kehilangan figur ayah, baik karena perpisahan, kematian, maupun ketidakhadiran secara emosional.
Si Bungsu yang Dipaksa Dewasa
Selain sosok Dira, perhatian penonton juga tertuju pada Darin (Rey Bong), si anak bungsu. Akun resmi Instagram film ini menjelaskan bahwa tokoh Darin mewakili potret anak yang "terpaksa" dewasa sebelum waktunya.
Sebagai bungsu yang seharusnya menerima kasih sayang paling melimpah, Darin justru dituntut menjadi kuat meski jiwanya masih rapuh dan merindukan arahan.
Dialog yang Menampar Realita
Salah satu kutipan Dira yang paling membekas bagi penonton adalah saat ia menyebutkan bahwa:
"Menjadi dewasa memerlukan banyak uang, kerja lebih keras, dan bertarung dengan isi kepala sendiri."
Kalimat ini menjadi rangkuman pahit bagi anak-anak yang harus menjadi tulang punggung sekaligus "kepala keluarga" bagi dirinya sendiri karena tiadanya peran ayah di samping mereka.
Lebih dari Sekadar Tontonan
Film ini menjadi ajang refleksi, terutama bagi kaum muda dan pasangan calon orang tua, tentang betapa krusialnya kehadiran seorang ayah dalam struktur keluarga.
Bagi para pembaca novelnya, versi layar lebar ini dianggap berhasil memvisualisasikan imajinasi mereka tentang perjuangan berdamai dengan masa lalu yang kelam.
Pesan tersirat dalam film ini seolah berbisik kepada para penonton: "Tetap kuat ya Nak, badai yang datang sedini ini bukan bukti semesta menyiksamu, tapi cara semesta mempersiapkanmu untuk membangun keluarga yang lebih baik kelak."
(did/riza hidayatulloh)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo