SOLOBALAPAN.COM - Nama Taqy Malik kembali menjadi sorotan tajam warganet.
Sosok yang dikenal sebagai hafiz Al-Qur’an, YouTuber, sekaligus pengusaha muda itu kini diterpa isu serius terkait dugaan mark up harga wakaf mushaf Quran.
Isu ini bahkan berkembang hingga menyeret nama Taqy sebagai pihak yang disebut-sebut masuk radar aparat di Madinah.
Polemik tersebut bukan hanya ramai di media sosial Indonesia, tetapi juga disebut berdampak langsung pada komunitas mukim Indonesia di Arab Saudi.
Awal Mula Dugaan Mark Up Wakaf Quran
Isu ini pertama kali mencuat setelah seorang muthawif yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, mengunggah sejumlah pernyataan melalui akun Instagram @paparich666.
Ia menyoroti program wakaf Quran yang dijalankan Taqy Malik dengan harga yang dinilai tidak wajar.
Melalui unggahannya, Randy menyebut harga wakaf mushaf yang ditawarkan Taqy mencapai sekitar 80 riyal atau setara Rp330 ribu per mushaf.
Angka tersebut jauh di atas harga pasar mushaf di Mekkah dan Madinah yang disebut berada di kisaran 20–30 riyal.
"Nggak pernah nemu harga mushaf/Quran di Mekkah Madinah seharga 80 riyal (mau musim haji/ramadhan apapun kek)," ungkap Randy.
"Antum penyalur atau jualan wakaf?" sambungnya.
Pernyataan ini memicu perdebatan luas, terlebih setelah Taqy mengklaim berhasil menyalurkan ribuan mushaf Quran ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Baca Juga: Pelaku Masih di Bawah Umur, Begini Bengisnya Skenario Pembunuhan Siswa SMP di Kampung Gajah!
Klaim Distribusi 3.000 Mushaf dan Dampaknya
Puncak kontroversi terjadi ketika Taqy Malik mengumumkan keberhasilannya menyalurkan 3.000 mushaf Quran melalui program wakaf tersebut.
Jumlah besar ini justru memunculkan kekhawatiran di kalangan penyalur resmi mushaf di Arab Saudi.
Randy menyebut program tersebut diduga melanggar regulasi setempat dan berdampak pada penyalur lain yang selama ini beroperasi secara resmi.
"Ketika Taqy membuka itu (program waqaf quran) masuklah kurang lebih ada yang menitipkan amanah waqaf hampir 3 ribu mushaf. Belilah dia di sana, ketika dia beli banyak sekali di sana, selang beberapa minggu, kita (penyalur) tidak bisa membeli lagi," beber Randy.
Menurutnya, aturan pembelian dan distribusi mushaf di Arab Saudi menjadi semakin ketat setelah kejadian tersebut.
Disebut Jadi Buronan Polisi Madinah
Isu semakin memanas setelah beredar cuplikan wawancara yang diunggah akun Threads @sioneng999.
Dalam pernyataan tersebut, Randy mengklaim bahwa Taqy Malik telah beberapa kali dilaporkan ke aparat setempat.
"Kalau Taqy datang lagi ke Madinah, bukti itu sudah ada semua. Teman-teman itu sudah banyak laporan ke polisi di Madinah. Insya Allah dia akan langsung ditangkap, tak ada negosiasi," tuturnya.
Klaim ini sontak membuat nama Taqy Malik ramai diperbincangkan lintas platform, dari Instagram hingga X (Twitter).
Konten Wakaf Ramadan dan Reaksi Warganet
Di sisi lain, Taqy Malik sempat membagikan ajakan wakaf mushaf Ramadan melalui akun media sosialnya.
Ia menyebut harga mushaf mencapai Rp330 ribu karena klaim kenaikan harga di Arab Saudi.
"Bismillah, waqaf mushaf spesial Ramadan kita buka ya. Harga per-mushaf Rp330 ribu, karena mushaf di Saudi naik dua kali lipat dari tahun lalu," tulis Taqy Malik.
Ajakan tersebut kembali disorot setelah diunggah ulang oleh akun @paparich666 dan menuai respons keras warganet.
"Selama ane lima tahun bolak-balik di Saudi, enggak pernah nemu harga mushaf/quran di Mekkah dan Madinah seharga 80 Riyal (mau musim haji/ramadan apa pun kek)," komentarnya.
Tak sedikit warganet yang kemudian menghitung potensi keuntungan dari selisih harga tersebut dan menyebut angka fantastis hingga miliaran rupiah.
"80 riyal/330k per pcs Harga asli 25 riyal atau 110 k. Berarti untung per mushaf 330-110 =220k x 30.000 mushaf = Rp6,6 miliar keuntungannya ya waw menjanjikan sekali bukan jualan agama," timpal akun @siha***.
Isu Penjualan Kiswah Ka'bah Ikut Disorot
Selain wakaf Quran, Randy Permana juga menyinggung dugaan penjualan kain kiswah Ka'bah oleh Taqy Malik.
Ia meragukan keaslian kain tersebut dan menyebut kiswah Ka'bah merupakan aset Kerajaan Arab Saudi yang tidak diperjualbelikan secara bebas.
"Ya kali aset kerajaan Saudi sampai Indo, kalaupun potongan kiswah bekas dari Ka'bah bisa dijual, udah pasti habis diborong warga timur tengah (logika ane yang bodoh ini) tidak ada potongan kiswah asli bekas kabah di jual belikan, yang dijual bersertifikat itu kiswah cetakan pabrik yang sama (replica) memang untuk dijual belikan," kesalnya.
Keraguan juga muncul dari kondisi fisik kain yang dinilai terlalu bersih.
"Maaf mau tanya nih, itu kiswah habis dilaundry apa gimana? Bening amat, kan kalau bekas dari ka'bah setahun kena panas dan hujan. Kek barang dari pabrikan atau asli pabrik Saudi maksudnya," tambahnya.
Hingga kini, polemik seputar Taqy Malik masih terus bergulir.
Mulai dari dugaan mark up wakaf Quran, isu penjualan kiswah replika, hingga kabar pencarian oleh polisi Madinah, semuanya menempatkan nama Taqy Malik di bawah sorotan tajam publik.
Sampai berita ini disusun, belum ada klarifikasi resmi langsung dari Taqy Malik terkait seluruh tudingan tersebut, meski aktivitasnya di media sosial masih terus berjalan dan kolom komentarnya dipenuhi berbagai reaksi warganet. (lz)
Editor : Laila Zakiya