JAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Meski belum genap sepekan tayang, film “Patah Hati yang Kupilih” mulai berkurang jumlah layarnya di bioskop.
Hingga Senin (29/12), film arahan sutradara Danial Rifki itu baru mengantongi 86.971 penonton. Sebagai produser, Umay Shahab mengaku sudah menyadari risiko tersebut sejak awal.
Umay menyebut keputusan merilis filmnya bersamaan dengan banyak judul lain telah melalui pertimbangan matang. Ia pun memilih bersikap legawa terhadap hasil yang didapat.
“Yang penting usaha kami sudah maksimal. Gimana pun hasilnya, diserahkan saja,” ujar Umay saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat.
Menurut Umay, setiap film memiliki segmen penonton dan karakteristik genre yang berbeda. Karena itu, ia tidak melihat kondisi tersebut sebagai persaingan yang harus disesali.
Alih-alih kecewa, sutradara sekaligus produser itu justru mengaku senang melihat bioskop dipenuhi film-film Indonesia. Baginya, kondisi ini menjadi pertanda positif bagi industri perfilman Tanah Air.
“Justru senang jadinya bioskop diisi film-film Indonesia. Harapannya bioskopnya makin banyak, supaya pembagian filmnya juga bisa lebih merata,” tutur Umay.
Di sisi lain, Umay juga menyoroti peran platform streaming yang kian besar dalam industri film Indonesia.
Menurutnya, kehadiran layanan digital memang memudahkan penonton, namun dampaknya tidak selalu sepenuhnya positif.
Ia mengibaratkan platform streaming sebagai “pedang bermata dua”. Di satu sisi membuka akses luas, namun di sisi lain membuat sebagian penonton mempertanyakan urgensi menonton langsung di bioskop. Bahkan, kondisi ini turut memicu maraknya pembajakan.
“Ketika di streaming sekarang tayangnya cepat, orang jadi mikir, ‘ngapain ke bioskop, nonton di sini aja’. Atau mungkin pembajakan yang sekarang juga semakin marak,” ujar Umay usai konferensi pers film Patah Hati yang Kupilih di Jakarta, Kamis.
Baca Juga: Solo Car Free Night dan Panggung Hiburan, Dishub Imbau Cari Jalur Alternatif
Meski demikian, Umay tak menampik sisi positif dari platform digital. Produser dari Sinemaku Pictures itu menilai streaming justru membuka peluang besar bagi film Indonesia untuk menjangkau pasar global.
Menurutnya, film-film Indonesia kini menikmati momentum emas karena dapat ditonton oleh audiens lintas negara, bukan hanya penonton dalam negeri.
“Sisi yang paling menguntungkannya, film Indonesia sekarang dinikmati lebih luas. Yang nonton bukan cuma orang Indonesia, tapi sudah sampai ke seluruh dunia,” katanya.
Bagi Umay, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana industri film bisa menjaga keseimbangan antara bioskop dan platform streaming, agar keduanya tetap hidup dan menjadi ruang berkembang bagi sineas Tanah Air. (jp/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto