JAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Prilly Latuconsina kembali ke dunia horor setelah beberapa tahun vakum. Kali ini, ia hadir untuk menutup perjalanan panjang karakter Risa lewat film terbaru Danur: The Last Chapter.
Menariknya, Prilly mengaku memang hanya ingin bermain film horor jika masih berada di dalam Danur Universe.
Tak berlebihan, karena Danur punya tempat spesial dalam perjalanan kariernya. Film Danur: I Can See Ghosts (2017) bukan hanya menjadi debut layar lebarnya, tetapi juga menjadi penanda perubahan besar dalam hidupnya.
“Itu film pertama yang percaya sama aku sebagai pemeran utama,” kata Prilly saat konferensi pers di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (10/12).
Saat itu, kemampuan aktingnya sering diragukan karena ia datang dari dunia sinetron.
“Aku sangat berjuang buat pindah ke film. Waktu itu ada stigma artis sinetron tuh nggak bagus kalau main film,” ujarnya.
Prilly juga mengenang kondisi industri saat Danur pertama rilis. Delapan tahun lalu, genre horor tidak sekuat dan sepopuler sekarang. Dukungan industri pun minim.
“Udah di-bully gara-gara aku artis sinetron, ditambah industri horornya nggak kuat. Jadi aku sempat mikir, ini keputusan tepat atau nggak?”
Namun perjalanan membuktikan segala keraguan itu salah. Danur: I Can See Ghosts meledak dan menembus lebih dari 2 juta penonton, menjadi salah satu fondasi kebangkitan film horor modern Indonesia.
Kesuksesan itu membuat Prilly memilih setia pada karakter Risa. Ia bahkan menolak berbagai tawaran film horor lain.
“Selama ini aku nggak ambil film horor lain. Aku merasa mengkhianati Risa kalau belum selesai tapi udah main horor lain,” ungkapnya.
Prilly juga menyebut antusiasme fans sebagai alasan kuat untuk menutup cerita Danur dengan layak.+
Baca Juga: Timnas Voli Putri Indonesia Lolos ke Semifinal SEA Games 2025 Usai Bekuk Myanmar 3-0
“Ke mana pun aku pergi pasti ditanya, ‘Danur kapan?’” katanya sambil tertawa.
Film Danur: The Last Chapter disutradarai Awi Suryadi dan diproduksi oleh MD Pictures. Proyek ini dijadwalkan tayang pada 2026, sekaligus menjadi akhir kisah Risa yang telah menemani karier Prilly selama hampir satu dekade. (jp/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto