Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Update Desil Mei 2026 Bikin Para Siswa Kehilangan Kesempatan Terima Dana PIP? Anak Sekolah Kini Was-was usai Perubahan Status DTSEN!

Laila Zakiya • Selasa, 5 Mei 2026 | 15:49 WIB
Ilustrasi bansos PKH dan BPNT.
Ilustrasi bansos PIP.

 

SOLOBALAPAN.COM - Perubahan data sosial ekonomi nasional kembali jadi sorotan. Update terbaru desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pada Mei 2026 memicu keresahan di kalangan orang tua dan siswa.

Pasalnya, sejumlah penerima bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dikabarkan mendadak kehilangan haknya akibat perubahan status desil.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. DTSEN kini menjadi satu-satunya acuan pemerintah dalam menentukan penerima bantuan sosial, termasuk PIP. Artinya, perubahan kecil dalam data bisa berdampak besar terhadap kelayakan seseorang menerima bantuan.

Perubahan Desil Bikin Penerima PIP Berkurang

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, menyoroti adanya pergeseran desil yang terjadi secara tiba-tiba. Ia menilai kondisi ini berpotensi merugikan masyarakat yang sebenarnya masih membutuhkan bantuan.

"Desil 1 sampai desil 5 itu perlu dikaji ulang. Karena ternyata banyak yang tiba-tiba bergeser desilnya tanpa diketahui oleh yang bersangkutan," katanya.

Menurutnya, perubahan tersebut membuat sebagian keluarga kehilangan akses terhadap bantuan pendidikan.

"Sehingga hak mendapatkan bantuan pemerintah, apapun juga termasuk PIP di dalamnya, akhirnya kehilangan kesempatan. Padahal memang tidak mampu untuk membayar biaya pendidikan dari anak-anaknya," sambungnya.

Baca Juga: Wacana Penutupan Prodi, Tiga Rektor di Solo Kompak Ingatkan Pemerintah

DTSEN Jadi Penentu Utama Bantuan Sosial

Saat ini, DTSEN mengintegrasikan berbagai basis data seperti DTKS, Regsosek, hingga P3KE. Sistem ini mengelompokkan masyarakat ke dalam 10 desil berdasarkan kondisi ekonomi.

Dalam skema ini:

Artinya, jika sebuah keluarga mengalami kenaikan desil—meskipun tidak signifikan secara nyata—maka peluang menerima bantuan bisa langsung hilang.

Data Tidak Selalu Akurat, Ini Penyebabnya

Meski sistemnya terintegrasi, bukan berarti bebas dari kesalahan. Ada sejumlah faktor yang membuat data desil tidak sesuai kondisi lapangan, seperti:

Bahkan, ditemukan adanya ketidaksesuaian antar data pemerintah. Kurniasih mengungkap masih ada warga yang menerima bantuan iuran kesehatan, tetapi tidak lolos sebagai penerima bantuan pendidikan.

Baca Juga: Siapa Istri Bambang Nuryatno Rachmadi? Dari Putri Mantan Wapres hingga Isu Perseteruan dengan Ahmad Dhani

Pemerintah: Penentuan Desil Bukan dari Pendamping

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa penentuan desil sepenuhnya dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bukan oleh pendamping sosial.

"Pendamping PKH (dan) kita semua tidak bisa menentukan desil DTSEN. Tugas kita hanya mengirim data-data yang sesuai di lapangan. Yang menentukan adalah BPS," kata Gus Ipul.

Ia juga menjelaskan bahwa DTSEN bersifat dinamis dan bisa berubah kapan saja, tergantung pembaruan data seperti kelahiran, kematian, atau perubahan ekonomi.

Banyak Orang Tua Keluhkan Bantuan Terhenti

Seiring pembaruan data, banyak orang tua siswa mengaku bantuan PIP yang sebelumnya rutin diterima kini tiba-tiba berhenti.

Hal ini membuat kekhawatiran meningkat, terutama bagi keluarga yang masih bergantung pada bantuan untuk biaya sekolah.

Dalam sistem baru, jika NIK siswa atau orang tua tidak sinkron atau tidak masuk kategori desil prioritas, maka bantuan otomatis tidak diberikan.

Baca Juga: Jangan Dulu Dibuang! Ini 5 Cara Cepat Memperbaiki Resleting Macet Tanpa Harus Ganti Baru

Solusi: Bisa Ajukan Sanggah dan Perbaikan Data

Meski terdampak, masyarakat masih punya peluang untuk memperbaiki status desil. Pemerintah membuka beberapa jalur pengajuan, antara lain:

Prosesnya memang tidak instan karena harus melalui verifikasi lapangan dan penilaian ulang.

Kenapa Isu Ini Penting?

Perubahan desil bukan sekadar angka dalam sistem. Dampaknya langsung terasa pada akses pendidikan anak-anak. Ketika data tidak akurat, yang dirugikan adalah mereka yang benar-benar membutuhkan.

Di sisi lain, sistem ini juga bertujuan memastikan bantuan tepat sasaran. Namun tanpa pembaruan data yang transparan dan cepat, justru berisiko menimbulkan ketidakadilan baru.

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Sukoharjo Sasar Keluarga Miskin Ekstrem, Validasi Data Jadi Kunci

Anak Sekolah Kini Was-was

Dengan kondisi ini, banyak siswa dan orang tua kini merasa was-was. Bantuan yang sebelumnya bisa diandalkan untuk kebutuhan sekolah, kini menjadi tidak pasti.

Padahal, bagi sebagian keluarga, PIP bukan sekadar bantuan tambahan, tetapi penopang utama agar anak tetap bisa bersekolah.

Ke depan, evaluasi sistem dan transparansi data menjadi kunci agar program bantuan pendidikan tetap berjalan adil dan tepat sasaran. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#pip #Desil #DTSEN