Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

IHSG Hari Ini Hijau setelah 2 Hari Jeblok Parah! OJK Pilih Reformasi Aturan Free Float, Apa Itu?

Laila Zakiya • Jumat, 30 Januari 2026 | 11:08 WIB

 

Ilustrasi - IHSG hari ini meng-hijau usai 2 hari ambles.
Ilustrasi - IHSG hari ini meng-hijau usai 2 hari ambles.

SOLOBALAPAN.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada perdagangan Jumat (30/1/2026) setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan hebat hingga memicu trading halt.

Rebound ini terjadi di tengah langkah tegas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memilih mempercepat reformasi aturan free float demi menjaga kepercayaan investor global.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah signifikan pada Kamis (29/1/2026) dengan penurunan 88,35 poin atau 1,06% ke level 8.223,20.

Meski koreksi akhir terbilang lebih kecil, secara intraday IHSG sempat ambles hingga 10% sebelum perdagangan dihentikan sementara.

Dua Hari Tekanan Berat, Tapi Ada Sinyal Stabilitas

Tekanan jual masif tercermin dari dominasi saham yang melemah, mencapai 521 saham, sementara hanya 214 saham yang menguat.

Nilai transaksi justru mencetak rekor jumbo Rp68,18 triliun, menjadikannya nilai transaksi harian terbesar sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia di luar transaksi negosiasi.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham berkapitalisasi besar menahan kejatuhan indeks.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Astra International Tbk (ASII) tercatat memberi kontribusi positif terhadap indeks.

Namun secara sektoral, hampir seluruh sektor masih berada di zona merah, dengan pelemahan terdalam terjadi pada sektor konsumer siklikal.

OJK Gaspol Reformasi Free Float

Di tengah volatilitas pasar, perhatian investor kini tertuju pada langkah OJK yang memilih memperbaiki akar masalah pasar modal, yakni transparansi dan likuiditas saham.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar memastikan Bursa Efek Indonesia akan segera menerbitkan aturan baru terkait batas minimal saham publik.

"SRO (Self-Regulatory Organization/BEI) akan menerbitkan aturan untuk free float minimal 15 persen yang akan dilakukan dalam waktu dekat dan dengan transparansi yang baik," ungkap Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar saat konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Kamis (29/1).

Kebijakan ini menaikkan batas free float dari sebelumnya 7,5% menjadi 15%.

Langkah tersebut diambil menyusul sorotan tajam dari MSCI terhadap struktur kepemilikan saham di Indonesia.

Apa Itu Free Float dan Mengapa Penting?

Mengutip definisi Corporate Finance Institute, free float adalah jumlah saham yang aktif diperdagangkan di pasar dan tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali atau institusi strategis jangka panjang.

Free float menjadi indikator penting untuk menilai likuiditas dan transparansi saham.

Semakin besar porsi free float, semakin stabil pergerakan harga saham karena tidak mudah dimanipulasi.

Saat ini, rasio floating share Indonesia masih berada di kisaran 23%, dengan saham yang memiliki free float di atas 40% dikategorikan sangat likuid dan berbobot tinggi dalam indeks.

Reformasi Demi MSCI dan Investor Global

Langkah OJK tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis. Ketua OJK menegaskan bahwa reformasi ini mendapat dukungan penuh lintas otoritas negara.

“Memang tadi pagi kami bertemu dengan Pak Menko, Pak Menkeu, Pak Gubernur BI, Pak Mensesneg, Pak Kepala BP BUMN dan Kepala BPI Danantara,” ucap Mahendra.

Ia menegaskan seluruh pihak solid mendukung agenda perbaikan pasar modal nasional.

“Tapi berkaitan dengan ini (kebijakan MSCI), semua mendukung penuh langkah-langkah reformasi, perbaikan dan penguatan yang kita lakukan, seperti yang barusan saya sampaikan tadi,” sambungnya.

Menurut Mahendra, fokus utama OJK bukan semata merespons tekanan jangka pendek, melainkan memastikan reformasi berjalan menyeluruh.

“Jadi itu kunci dasarnya adalah reformasi yang memperbaiki transparansi dan integritas. Tapi kami fokusnya bukan itu, fokusnya adalah reformasi. Perbaikannya itu seluruhnya dan berjalan cepat, tepat, dan efektif,” tukasnya kemudian.

IHSG Hijau, Pasar Tunggu Efek Nyata Reformasi

Dengan mulai menguatnya IHSG hari ini, pasar menilai langkah OJK sebagai sinyal kuat bahwa stabilitas jangka panjang menjadi prioritas utama.

Reformasi aturan free float diharapkan mampu meningkatkan kualitas likuiditas saham, mengurangi volatilitas ekstrem, dan menjaga posisi Indonesia tetap sejajar dengan pasar global.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati implementasi aturan free float 15% serta respons MSCI, sembari menimbang sentimen global yang masih dibayangi kebijakan The Fed dan dinamika ekonomi Amerika Serikat. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#menkeu #ojk #Free Float #saham #trading halt #ihsg