SOLOBALAPAN.COM - Saat ini berbagai UMKM yang ada di Kota Solo sudah mulai menjadi yang paling reponsif dengan digitalisasi usaha.
Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya pelaku UMKM yang bergabung menggunakan platform digital, seperti AmarthaOne.
Tercatat ada 1.000 pelaku usaha yang ada di Solo telah menjadi agen resmi dari AmarthaOne.
AmarthaOne merupakan pusat pembayaran non-tunai yang disediakan oleh Amartha melalui mitra pemilik warung sebagai agen.
"Kami membuka akses layanan keuangan inklusif, karena kami melihat bahwa masih banyak masyarakat terutama di pinggir area yang belum dapat akses ke keuangan. Untuk di Solo jumlah yang bergabung memang cukup signifikan," kata Head of New Retail Amartha Aditya Pratomo saat berkunjung di salah satu agen di Solo, kemarin (16/2).
Menjadi agen AmarthaOne, pelaku usaha bisa menyediakan penjualan dan transaksi lebih mudah dan praktis.
Seperti transaksi pembayaran PPOB, tagihan rumah tangga, e-wallet, dan lainnya.
Menurut Aditya, keberadaan agen ini bisa menjadi garda terdepan untuk memberikan pelayanan keuangan digital kepada masyarakat sekitar.
Pihaknya menargetkan sejumlah 100.000 pelaku UMKM secara nasional untuk terdigitalisasi sebagai mitra AmarthaOne.
"Benefit jadi agen AmarthaOne pertama pasti dapat tambahan revenue atau pendapatan. Agen tidak hanya jualan barang fisik, tapi juga kami bukakan akses untuk jualan barang digital seperti pulsa data, token listrik, dan semuanya," kata Adit.
"Syarat menjadi agen mudah. Pertama harus amanah. Terus perfomance pinjaman repaymentnya di Amartha bagus, dan punya pengaruh baik bagi lingkungan sekitarnya," lanjutnya.
Sebagai bentuk apresiasi kepada agen mitra yang mencatatkan angka transaksi tinggi, Adit mengatakan, juga melakukan bedah warung.
Seperti yang dilakukan di warung milik Mila Andriyana Rosyida, warga Banjarsari.
Dia mencatatkan sekitar 100-200 transaksi tiap bulan. Mila juga mengaku senang, warung kelontongnya di make over sedemikian rupa.
"Dulu itu karena butuh modal terus ditawari, sebelumnya kan saya punya usaha warung makan. Tapi karena pandemi warungnya sepi, larinya kerja di butik, tapi karena bosnya nggak bisa bayar jadi saya di-cut," bebernya.
"Lalu saya buka warung kelontong. Dan menambah jenis produk digital, warung menjadi lebih ramai. Saya melayani pengisian pulsa, paket data, dan token listrik," tukasnya. (ul/nda)
Editor : Nindia Aprilia