Jelang Festival Kue Bulan 2026, Kenali Makna Mooncake hingga Legenda Dewi Bulan

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 17:30 WIB
Mooncake menjadi salah satu simbol dalam Festival Kue Bulan yang dirayakan pada pertengahan musim gugur.(Lingoace)
Mooncake menjadi salah satu simbol dalam Festival Kue Bulan yang dirayakan pada pertengahan musim gugur.

SOLOBALAPAN.COM - Festival Kue Bulan atau Festival Pertengahan Musim Gugur kembali dirayakan pada 2026. Perayaan ini identik dengan mooncake, tetapi tradisinya tidak hanya soal menyantap kue berbentuk bulat.

Festival Pertengahan Musim Gugur dirayakan setiap tanggal 15 bulan kedelapan dalam kalender lunar Tionghoa. Pada 2026, perayaan tersebut jatuh pada 25 September.

Baca Juga: Masih Ingat Spacetoon? Dulu Teman Pulang Sekolah, Ternyata Begini Nasibnya Sekarang

Waktu tersebut bertepatan dengan bulan purnama. Dalam tradisi Tionghoa, bulan yang tampak penuh menjadi salah satu simbol penting dalam perayaan karena bentuknya yang bulat kerap dikaitkan dengan keutuhan dan kebersamaan.

Karena itu, festival ini juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga. Menikmati makanan dan menghabiskan waktu bersama sambil memandang bulan menjadi bagian dari tradisi yang masih dilakukan.

Mooncake atau kue bulan kemudian menjadi makanan yang paling identik dengan perayaan tersebut. Bentuknya yang umumnya bulat dianggap memiliki kaitan dengan bentuk bulan purnama.

Kue bulan hadir dengan berbagai isian. Beberapa yang dikenal antara lain pasta biji teratai, kacang merah, dan kuning telur asin.

Baca Juga: Tiba-Tiba Viral Lagi! Lagu Fatin Ini Bikin Nostalgia Masa Sekolah, Ternyata Sudah 12 Tahun Berlalu

Di balik mooncake juga terdapat cerita populer yang membuatnya semakin menarik. Salah satunya adalah kisah tentang penggunaan kue untuk menyampaikan pesan rahasia dalam perlawanan terhadap Dinasti Yuan.

Dalam cerita tersebut, pesan mengenai rencana pemberontakan dikisahkan disembunyikan di dalam kue. Namun, kisah ini lebih dikenal sebagai legenda yang berkembang di masyarakat dan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penjelasan sejarah mengenai asal-usul mooncake.

Festival ini juga memiliki legenda yang berkaitan dengan Chang’e. Dalam cerita rakyat Tionghoa, Chang’e dikenal sebagai tokoh yang tinggal di bulan.

Baca Juga: Lucu Banget! Mark Lee Main Bareng Anak-Anak, Plot Twist-nya Salah Satunya Anak Pelatih Fisik Persija

Legenda tersebut berkisah tentang Hou Yi, seorang pemanah yang disebut berhasil menyelamatkan bumi dari sembilan matahari. Ia kemudian mendapatkan ramuan keabadian.

Chang’e meminum ramuan tersebut dan kemudian terbang menuju bulan. Kisah inilah yang membuat sosok Chang’e begitu erat dengan cerita seputar Festival Pertengahan Musim Gugur.

Selain menyantap mooncake, perayaan juga dapat diisi dengan menikmati bulan purnama, berkumpul bersama keluarga, menyalakan lampion, dan mengikuti kegiatan budaya.

Baca Juga: Di Balik Bunyi Gamelan Sekaten, Ada Tradisi Nginang, ini Maksudnya!

Nama Festival Pertengahan Musim Gugur sendiri berkaitan dengan waktu perayaannya yang berada pada bulan kedelapan kalender lunar. Sementara istilah Festival Kue Bulan lebih banyak digunakan karena mooncake menjadi salah satu simbol yang paling dikenal dari perayaan tersebut.

Dengan berbagai tradisi dan cerita yang menyertainya, Festival Kue Bulan tidak hanya menjadi perayaan untuk menikmati makanan. Mooncake, bulan purnama, kebersamaan keluarga, serta legenda Chang’e menjadi bagian yang membuat tradisi ini tetap dikenal hingga sekarang. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra festivalkuebulan mooncake musim gugur Budaya Tionghoa