Prabowo Sebut “Saking Pintarnya Jadi Goblok”, Bagaimana Kalimat Ini Dilihat dari Kesantunan Berbahasa?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 08:26 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri HUT ke-28 PAN di JICC, Jakarta, Jumat, 18/9/2026. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Presiden Prabowo Subianto menghadiri HUT ke-28 PAN di JICC, Jakarta, Jumat, 18/9/2026. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

SOLOBALAPAN.COM – Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan setelah menyebut sejumlah pihak yang menganggap dirinya pakar dengan kalimat, “saking pintarnya jadi goblok”. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo sedang membahas kritik terhadap pemerintah. Ia mengatakan tidak mempermasalahkan kritik, tetapi kemudian menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya menggunakan kepakaran untuk menyerang pemerintah. Pada bagian itulah muncul ungkapan “saking pintarnya jadi goblok” yang kemudian banyak diberitakan dan diperbincangkan.

Lantas, bagaimana kalimat tersebut jika dilihat bukan dari sisi politik, melainkan dari kesantunan berbahasa?

Baca Juga: Apa Itu Etomidate yang Dikaitkan dengan Vape Jule? Ternyata Obat Anestesi untuk Keperluan Medis

Apa Arti Kata “Goblok”?

Secara makna sebenarnya, goblok merupakan kata sifat yang dalam KBBI berarti “bodoh sekali”. Kata tersebut digunakan untuk memberikan penilaian terhadap seseorang yang dianggap sangat bodoh.

Dalam penggunaan sehari-hari, kata goblok juga memiliki nuansa yang lebih kasar dibandingkan kata seperti bodoh. Penelitian mengenai kosakata tabu dalam bahasa Indonesia memasukkan goblok sebagai salah satu kata yang digunakan sebagai makian atau umpatan.

Karena itu, ketika kata tersebut diarahkan kepada orang atau kelompok tertentu, maknanya tidak lagi sekadar menjelaskan tingkat kemampuan seseorang. Ada evaluasi negatif terhadap pihak yang menjadi sasaran tuturan.

Baca Juga: Purbaya Usai Sertijab: Ngasih Makan Ikan Dulu, Sebelum Mancing

Kesantunan Tidak Hanya Dilihat dari Satu Kata

Dalam pragmatik, menentukan apakah suatu tuturan santun atau tidak tidak cukup hanya dengan melihat satu kata. Konteks, hubungan antara penutur dan lawan tutur, tujuan komunikasi, serta situasi ketika tuturan disampaikan juga ikut menentukan bagaimana sebuah ujaran dipahami.

Kajian mengenai kesantunan dan ketidaksantunan bahasa modern juga menempatkan fenomena tersebut sebagai sesuatu yang dinegosiasikan dalam interaksi dan konteks sosial. Artinya, sebuah ungkapan yang terdengar kasar dalam satu situasi belum tentu memiliki fungsi yang sama ketika digunakan dalam konteks lain.

Dalam kasus pernyataan Prabowo, konteksnya adalah pidato publik ketika ia sedang menanggapi pihak yang disebutnya sebagai pakar dan pengkritik pemerintah. Karena itu, analisis bahasa perlu melihat hubungan antara kata yang digunakan dan pihak yang menjadi sasaran pernyataan tersebut.

“Saking Pintarnya Jadi Goblok” dan Ketidaksantunan

Konsep ketidaksantunan (impoliteness) dari ahli pragmatik Jonathan Culpeper dapat digunakan untuk melihat fenomena semacam ini. Culpeper menjelaskan bahwa ketidaksantunan berkaitan dengan perilaku berbahasa yang dalam konteks tertentu dipahami sebagai serangan terhadap face, yakni citra sosial yang ingin dipertahankan seseorang dalam interaksi.

Culpeper juga menjelaskan bahwa penggunaan bahasa tabu dapat menjadi bagian dari strategi ketidaksantunan, meskipun sebuah kata tabu tidak otomatis menjadi tidak santun dalam setiap situasi. Konteks tetap berperan dalam menentukan bagaimana sebuah ekspresi dipahami dan seberapa besar daya serangnya.

Jika kerangka tersebut diterapkan pada kalimat “saking pintarnya jadi goblok”, kata goblok dapat dilihat sebagai bentuk evaluasi negatif yang diarahkan kepada pihak yang sedang dibicarakan. Kata tersebut tidak hanya menyatakan ketidaksetujuan terhadap pendapat seseorang, tetapi memberikan label negatif terhadap pihak yang menjadi sasaran.

Baca Juga: Aisar Khaled Dilaporkan usai 3 Kali Somasi, Sebenarnya Apa Itu Somasi?

Ada Permainan Makna dalam Kalimatnya

Menariknya, bagian yang membuat pernyataan tersebut secara linguistik tidak sesederhana penggunaan kata kasar adalah konstruksi saking pintarnya jadi goblok”.

Kata pintar pada awalnya memiliki makna positif, sedangkan goblok memiliki makna negatif. Kedua kata tersebut ditempatkan dalam satu konstruksi sehingga menghasilkan hubungan yang bersifat kontras: seseorang disebut terlalu pintar sampai justru dianggap menjadi bodoh.

Dengan demikian, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk sindiran. Penutur tidak secara sederhana mengatakan bahwa pihak yang dimaksud “bodoh”, tetapi membangun pertentangan antara pintar dan goblok untuk menyampaikan penilaian terhadap cara berpikir atau pendapat pihak tersebut.

Penelitian linguistik mengenai penggunaan kata pintar dan goblok dalam wacana politik juga menunjukkan bahwa kedua kata tersebut dapat menghasilkan makna evaluatif yang berbeda ketika ditempatkan dalam konteks tertentu. Artinya, hubungan antarkata dan konteks penggunaannya ikut membentuk pesan yang diterima oleh pendengar.

Jadi, Santun atau Tidak?

Dari perspektif linguistik, ungkapan tersebut dapat dianalisis sebagai bentuk ketidaksantunan karena terdapat penggunaan leksikon bernilai negatif yang diarahkan kepada pihak tertentu dan berpotensi menyerang citra sosial pihak yang menjadi sasaran. Namun, penilaian ketidaksantunan tetap perlu mempertimbangkan konteks, relasi penutur dan sasaran, serta fungsi tuturan secara keseluruhan.

Dalam kasus ini, kata “goblok” menjadi bagian yang paling menonjol karena secara leksikal memang mengandung penilaian negatif. Sementara itu, susunan “saking pintarnya jadi goblok” membuat pernyataan tersebut memiliki lapisan makna berupa pertentangan dan sindiran yang menarik untuk dilihat dari kacamata pragmatik.

Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : KBBI, Jonathan Culpeper, Aksara, Berbagai Sumber
pintarnya kesantunan prabowo kata Goblok