SOLOBALAPAN.COM - Sawit Indonesia tidak hanya menghasilkan minyak. Bagian lain dari tanaman tersebut juga mulai dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya lidi sawit yang kini telah masuk ke pasar China.
Hingga Agustus 2026, pengiriman lidi sawit dalam program pengembangan produk turunan perkebunan tersebut mencapai dua kontainer berukuran 40 kaki. Setiap kontainer membawa sekitar 30 ton lidi, sehingga totalnya mencapai sekitar 60 ton.
Baca Juga: Mendobrak Batas Stadion, BTS Bawa Euforia Tur 'Arirang' Amerika Latin ke 3.800 Bioskop Dunia
Sebelum pengiriman tersebut, ekspor perdana lidi sawit ke China dilakukan pada Juni 2026. Sebanyak 28 ton lidi dikirim melalui Belawan, Medan, dengan bahan baku yang berasal dari perkebunan di Riau, Sumatera Utara, dan Aceh.
Masuknya lidi sawit ke pasar ekspor tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku. Produk tersebut harus melalui proses pengolahan dan penyiapan agar sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan pasar.
Petani dan pelaku UMKM mendapat pendampingan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengolah lidi sekaligus menyesuaikan kualitas produk. Sejumlah aspek seperti ukuran, tingkat kekeringan, dan kondisi warna menjadi bagian yang diperhatikan dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Upaya tersebut telah dilakukan sejak 2024 melalui berbagai pelatihan dan workshop. Pendampingan diberikan untuk membantu kelompok petani dan UMKM memahami proses pengolahan hingga kebutuhan teknis yang harus dipenuhi sebelum produk masuk pasar ekspor.
Pengembangan lidi sawit juga melibatkan koperasi sebagai bagian dari pengumpulan hasil produksi. Pada ekspor perdana, tujuh koperasi anggota ASPEKPIR ikut terlibat dalam penyediaan bahan baku dengan manfaat yang mencakup sekitar 2.800 anggota koperasi.
Baca Juga: Hari Ke-10 Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda! Luas Area Operasi SAR Melonjak Dua Kali Lipat
Selama ini, lidi sawit masih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan lokal. Pengembangan ke pasar internasional membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas dari bagian tanaman sawit tersebut.
Ekspor ke China pun tidak berhenti pada pencapaian jumlah pengiriman. Di balik dua kontainer lidi sawit terdapat proses pengumpulan bahan baku, pengolahan, pendampingan, hingga penyesuaian produk dengan kebutuhan pembeli.
Lidi sawit yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan lokal kini mulai memiliki pasar di luar negeri. Pengiriman tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan produk turunan sawit yang melibatkan petani, UMKM, dan koperasi.(Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com