Kontroversi! Politikus Prancis Edit Foto Muslimah Berhijab dengan AI, Sebut sebagai “Kebebasan Prancis”

tim solobalapan • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 16:27 WIB
Foto perempuan berhijab yang telah dimodifikasi menggunakan AI hingga penampilan dan pakaiannya terlihat berbeda. (X.com)
Foto perempuan berhijab yang telah dimodifikasi menggunakan AI hingga penampilan dan pakaiannya terlihat berbeda. (X.com)

SOLOBALAPAN.COM - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) memicu polemik setelah seorang politikus Prancis mengubah penampilan perempuan berhijab dalam sebuah foto. Hasil editan tersebut kemudian dibagikan dengan tulisan “Liberté française!” atau “Kebebasan Prancis”.

Peristiwa itu ramai diperbincangkan di media sosial X. Perhatian tertuju pada perubahan yang terjadi dalam foto, sebab perempuan yang berada di dalamnya merupakan sosok nyata, bukan karakter hasil buatan digital.

Baca Juga: Prompt Tren Foto 80-an Anti Gagal di ChatGPT, Siap Pakai Tanpa Ubah Wajah Asli Paling Realistis

Awalnya, foto tersebut memperlihatkan seorang perempuan mengenakan hijab dan pakaian panjang berwarna merah muda ketika sedang berjalan di sebuah jalan. Foto itu diunggah pada 4 September 2026.

Sehari kemudian, politikus Prancis Julien Odoul membagikan versi lain dari gambar tersebut. Bukan sekadar mengubah warna atau latar, foto itu telah dimodifikasi menggunakan AI.

Dalam hasil editan, hijab perempuan tersebut dibuat seolah tidak dikenakan sehingga rambutnya terlihat. Pakaian panjang yang semula digunakan juga diubah menjadi atasan putih tanpa lengan dan celana.

Unggahan tersebut kemudian diberi tulisan “Liberté française!”. Penggunaan kata kebebasan dalam gambar yang telah diubah itu lantas menjadi salah satu bagian yang memicu perdebatan.

Baca Juga: Kenapa Juicy Luicy Viral Batal Manggung di Batam? Ini Duduk Perkara Polemik Over Bagasi vs Tagihan Hotel

Sorotan tidak hanya tertuju pada persoalan hijab. Penggunaan AI untuk mengubah penampilan orang nyata juga menimbulkan pertanyaan mengenai persetujuan dan hak seseorang atas gambaran dirinya yang beredar di ruang digital.

Persoalan tersebut semakin menjadi perhatian setelah muncul keterangan dari pihak keluarga perempuan dalam foto. Perempuan tersebut disebut tidak mengetahui bahwa dirinya sedang difoto. Keluarganya juga berupaya agar identitasnya tidak tersebar dan penyebaran foto dapat dibatasi.

Kasus ini muncul ketika isu mengenai penggunaan hijab kembali menjadi perdebatan politik di Prancis. Sejumlah politikus dari kelompok sayap kanan mendorong pembahasan mengenai kemungkinan pembatasan hijab di ruang publik menjelang pemilihan presiden 2027.

Baca Juga: Avengers: Doomsday Makin Dekat, Siapa Saja yang Akan Muncul di Film Avengers Terbaru?

Namun, hal tersebut tidak berarti Prancis saat ini memberlakukan larangan umum terhadap hijab di seluruh ruang publik. Negara tersebut memang memiliki aturan mengenai simbol keagamaan di sekolah negeri serta larangan penggunaan penutup wajah penuh di ruang publik. Aturan tersebut memiliki konteks yang berbeda dengan wacana pembatasan hijab yang sedang diperdebatkan.

Di tengah perdebatan tersebut, penggunaan AI membuat persoalan menjadi semakin kompleks. Teknologi yang dapat mengubah gambar dalam hitungan detik memungkinkan pakaian, rambut, hingga penampilan seseorang dibuat berbeda dari kondisi sebenarnya.

Ketika perubahan itu dilakukan terhadap orang nyata, persoalannya tidak lagi sebatas soal teknologi. Ada pula pertanyaan mengenai siapa yang berhak menentukan bagaimana seseorang ditampilkan di ruang publik.

Baca Juga: Spider-Man: Brand New Day Tembus US$2,4 Miliar, Kok Bisa Film Tom Holland Masih Diburu Penonton?

Foto yang semula sederhana akhirnya berkembang menjadi perdebatan mengenai hijab, kebebasan, politik, dan penggunaan AI. Terlebih, hasil edit tersebut menggambarkan seseorang dengan penampilan yang berbeda dari foto aslinya.

Peristiwa ini menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi AI dapat membawa persoalan baru ketika digunakan untuk memodifikasi identitas visual seseorang. Bukan hanya soal apakah sebuah gambar dibuat dengan AI, tetapi juga apakah orang yang ada di dalamnya menyetujui bagaimana dirinya ditampilkan.(hanifatuz zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
kebebasan prancis ai prancis teknologi hijab