Dugaan Efek Keracunan MBG: 32 Santri Manbaul Hikam Sidoarjo Dilarikan ke RSI Siti Hajar!

Damianus Bram • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 10:00 WIB
ILUSTRASI Keracunan MBG
ILUSTRASI Keracunan MBG

 

SOLOBALAPAN.COM — Gelombang dugaan kasus keracunan makanan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali merembet ke lingkungan pesantren.

Sebanyak 32 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar, Sidoarjo, Jawa Timur, sejak Selasa (8/9/2026) hingga Rabu (9/9/2026) pagi.

Setelah menjalani proses observasi medis secara intensif, pihak rumah sakit memutuskan lima santri harus menjalani rawat inap (opname), sementara 27 santri lainnya diperbolehkan pulang usai kondisinya dinyatakan membaik.

Koordinator Humas RSI Siti Hajar Sidoarjo, Eka Bayu, mengonfirmasi bahwa penanganan 32 santri tersebut dilakukan secara bertahap sejak Selasa siang hingga malam hari.

"Untuk saat ini ada 32 pasien yang kemarin datang, sekitar siang sampai malam. Dilakukan observasi beberapa jam, kemudian dinyatakan ada lima yang opname," terang Eka Bayu, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: Jeje Slebew Bakal Dinikahi Rio Ramadhan Eks Kekeyi, Dituding Jiplak Konsep Prewed Jennifer Coppen

5 Santri Alami Mual dan Diare Berat

Eka menjelaskan bahwa lima santri yang masih tertahan di ruang perawatan terdiri dari dua santri perempuan dan tiga santri laki-laki.

Kelimanya terpaksa diopname lantaran masih mengeluhkan rasa mual hebat, pusing, dan gangguan pencernaan berupa diare.

"Lima pasien masih opname. Gejalanya mual, pusing, dan diare. Kalau muntahnya tidak, lebih ke mual dan diarenya itu," jelas Eka.

Pihak medis memilih untuk menahan kelima santri tersebut di ruang perawatan guna memastikan pemulihan fungsi pencernaan mereka terpantau secara penuh oleh tim dokter.

Perketat Prosedur Observasi Demi Cegah Gejala Susulan

Guna mengantisipasi terjadinya gejala keluhan berulang (relapse), RSI Siti Hajar memberlakukan durasi observasi yang lebih panjang dibanding penanganan darurat biasa sebelum mengizinkan santri kembali ke pondok.

Langkah ini diambil agar para santri yang dipulangkan benar-benar berada dalam kondisi fisik yang stabil dan tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit.

"Kami khawatirkan setelah dipulangkan, ternyata di rumah masih kambuh lagi dan bolak-balik. Jadi, yang kita opname-kan benar-benar yang butuh perawatan lebih lanjut, sementara yang pulang gejalanya sudah berkurang jauh," pangkas Eka. (dam)

Editor : Damianus Bram
Makan Bergizi Gratis keracunan mbg Mbg sidoarjo santri