Laporan WMO: Kombinasi Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Udara Global!

Damianus Bram • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:33 WIB
Upaya pemadaman darat karhutla yang dilakukan tim satgas gabungan di wilayah Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, Selasa (25/8). (BNPB)
Upaya pemadaman darat karhutla yang dilakukan tim satgas gabungan di wilayah Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, Selasa (25/8). (BNPB)

 

SOLOBALAPAN.COM — Badan Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) merilis peringatan darurat terkait ancaman krisis kualitas udara global.

Meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpadu dengan gelombang panas ekstrem berisiko besar melumpuhkan upaya global dalam melindungi kesehatan manusia serta ekosistem bumi.

Melalui Buletin Kualitas Udara dan Iklim tahunannya, badan di bawah naungan PBB tersebut menekankan adanya keterkaitan erat antara laju perubahan iklim dan pemburukan polusi udara harian.

Data WMO menunjukkan bahwa insiden asap karhutla ekstrem telah melonjak hingga tiga kali lipat secara global sejak era 1990-an.

Sebuah studi yang disikut WMO memperkirakan paparan asap beracun ini berkontribusi atas hampir 100.000 kasus kematian tambahan setiap tahunnya pada rentang 2010 hingga 2018. 

Bahkan, WMO mewanti-wanti bahwa model estimasi risiko konvensional saat ini berpotensi meremehkan angka kematian akibat karhutla hingga 93 persen. Hal ini terjadi lantaran kalkulasi lama kerap gagal memperhitungkan tingkat toksisitas tinggi dari partikel halus (PM2.5) hasil pembakaran vegetasi.

"Memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan menjadi semakin sulit, mengingat cuaca ekstrem yang memicu kebakaran diperkirakan akan terus meningkat di masa depan," tulis laporan resmi WMO, Senin (7/9/2026).

Baca Juga: Tak Main-Main! Polri Jerat 138 Tersangka Karhutla dan Usut 8 Korporasi Nakal

Gelombang Panas Picu Lonjakan Ozon Beracun

Selain ancaman asap karhutla, fenomena gelombang panas turut memperparah konsentrasi ozon beracun di permukaan tanah.

Lonjakan suhu udara, atmosfer yang tidak bergerak (stagnant air), serta paparan sinar matahari terik menjadi katalis utama pembentukan ozon permukaan yang berbahaya bagi paru-paru.

WMO memprediksi risiko gangguan kesehatan dan kematian dini akibat paparan ozon permukaan akan melonjak hingga puluhan ribu kasus tambahan jika iklim global tak kunjung membaik.

Guna menekan dampak krisis ini, WMO mendesak seluruh negara anggota untuk memperketat sistem pemantauan polutan di atmosfer—termasuk pengawasan ketat terhadap emisi karbon hitam (black carbon) serta persebaran racun mikroplastik melayang yang kian mencemari udara bersih. (dam)

Sumber: Anadolu

Editor : Damianus Bram
Sumber : Anadolu
karhutla kebakaran hutan wmo polusi panas