SOLOBALAPAN.COM – Timbul, 49, tukang becak asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, DIY, mempertanyakan perubahan status kesejahteraan keluarganya dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebelumnya tercatat di desil 1, kini keluarganya tercantum di desil 9.
Perubahan tersebut menjadi persoalan bagi Timbul setelah putranya, Lutfi Arya Wijaya (18), diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) program studi Mesin. Timbul khawatir perubahan status itu memengaruhi peluang memperoleh bantuan pendidikan untuk membiayai kuliah anaknya.
Sehari-hari, Timbul mengandalkan pekerjaan sebagai tukang becak motor dengan penghasilan tidak menentu. Pada hari tertentu ia tidak memperoleh penghasilan. Sementara saat akhir pekan, pendapatannya berkisar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.
Baca Juga: Fraksi PDIP DPRD Solo Sesalkan Penetapan Desil Tak Sesuai Perda Penanggulangan Kemiskinan
Kondisi tempat tinggalnya juga menjadi bagian dari persoalan yang dipertanyakan. Rumah yang ditempati Timbul berdinding tembok dan sebagian lantainya menggunakan keramik. Namun, rumah tersebut disebut masih merupakan rumah keluarga yang kepemilikannya belum dibagi dan tercatat dimiliki bersama tujuh orang.
Sebelum statusnya berubah, keluarga Timbul pernah menerima sejumlah bantuan pemerintah ketika masih tercatat dalam desil 1. Ia mengaku tidak mengetahui kapan perubahan menjadi desil 9 terjadi dan tidak menerima pemberitahuan sebelumnya.
Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian Pemkab Kulon Progo. Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko mendatangi kediaman Timbul pada Senin (24/8/2026) untuk melihat kondisi keluarganya secara langsung. Pemkab juga berkoordinasi dengan BPS Kulon Progo untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi di lapangan.
Baca Juga: Masyarakat Desil Berapa yang Dibatasi Beli Pertalite? Simak Rincian Desil 1-10
Ambar menegaskan pentingnya data kesejahteraan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Namun, pemerintah belum menyimpulkan bahwa perubahan status Timbul merupakan kesalahan data. Proses verifikasi masih dilakukan.
DTSEN sendiri membagi masyarakat ke dalam 10 kelompok atau desil berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraan sosial ekonomi. Desil 1 berada pada kelompok kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok relatif paling tinggi. Angka desil juga bukan ukuran mutlak pendapatan atau kekayaan seseorang.
Terkait pemutakhiran data, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah menunggu hasil Sensus Ekonomi 2026 yang dilakukan BPS untuk mengkaji penentuan desil. Ia juga menegaskan pembagian desil tetap berada pada angka 1 sampai 10.
Untuk saat ini, kondisi ekonomi keluarga Timbul masih dalam proses verifikasi. Perubahan dari desil 1 menjadi desil 9 pun belum dapat disimpulkan sebagai kesalahan data sebelum pemeriksaan selesai. Di tengah proses tersebut, keluarga Timbul masih berharap persoalan data tidak menjadi penghalang bagi Lutfi untuk melanjutkan pendidikan di UNY. (monique millania s)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com