SOLOBALAPAN.COM – Sebuah potongan video yang menampilkan pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan wawancara daring dengan salah satu stasiun televisi swasta nasional dari sebuah rumah makan mendadak viral di media sosial pada Selasa (25/8/2026).
Potongan video tersebut menuai beragam spekulasi dari warganet. Banyak pihak mempertanyakan profesionalisme dan keberadaan pejabat tersebut yang dinilai tidak berada di lapangan untuk menangani dampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menanggapi kabar liar tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa sosok dalam video viral tersebut adalah dirinya.
Ia lantas meluruskan konteks kejadian yang sebenarnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.
Baca Juga: Kunjungan Dedi Mulyadi ke NTT Disorot Pengamat: Singgung Sindrom Selebritas dan Pencitraan
Wawancara Malam Hari di Simpul Logistik Bencana
Berton menjelaskan, sesi wawancara langsung tersebut berlangsung pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Saat itu, dirinya berada di sebuah rumah makan yang berjarak hanya sekitar 10 langkah dari Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo.
"Pada saat video tersebut dilakukan, pejabat BNPB yang bersangkutan sedang menjalankan tugas komunikasi publik mengenai perkembangan penanganan gempa NTT. Kegiatan dilakukan pada malam hari, di luar jam kerja kantor," jelas Berton, Rabu (26/8/2026).
Ia menegaskan bahwa keberadaannya di Labuan Bajo merupakan bagian dari rangkaian tugas resmi operasi kebencanaan.
"Labuan Bajo pada saat itu bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi merupakan salah satu simpul penting operasi BNPB, termasuk penerimaan dan distribusi logistik untuk wilayah Flores bagian barat," tambahnya.
BNPB Imbau Warganet Tidak Terpancing Potongan Video
Berton menyebut bahwa penanganan kondisi darurat bencana bersifat berkelanjutan dan tidak terikat jam kerja baku.
BNPB telah membagi tugas personel secara terstruktur antara tim lapangan teknis dan pejabat yang memegang fungsi koordinasi serta komunikasi publik.
"Keberadaan seseorang di tempat tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa yang bersangkutan sedang tidak bekerja," ucapnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat luas untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan klip pendek tanpa memahami situasi operasional di lapangan.
"Yang paling penting, pada saat itu yang bersangkutan sedang menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai penanganan gempa NTT. Kami tidak ingin masyarakat mendapatkan informasi yang keliru hanya karena melihat potongan video tanpa konteks," pungkas Berton. (dam)
Editor : Damianus Bram