Dari Mana Asal Nama "Sepur"? Menelusuri Sejarah Istilah Kereta Api dalam Bahasa Jawa

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 12:50 WIB
Istilah "sepur" telah lama digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut kereta api dan diduga berasal dari kata Belanda spoor yang berarti rel atau jalur kereta.
Istilah "sepur" telah lama digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut kereta api dan diduga berasal dari kata Belanda spoor yang berarti rel atau jalur kereta.

SOLOBALAPAN.COM - Bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, istilah "sepur" sudah sangat akrab digunakan untuk menyebut kereta api.

Bahkan, banyak orang lebih sering mengatakan "naik sepur" dibandingkan "naik kereta api". Namun, dari mana sebenarnya asal nama "sepur"?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sepur berarti kereta api. Kata ini berasal dari bahasa Jawa dan telah lama digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Baca Juga: Stasiun Ketapang, Gerbang Kereta Api di Ujung Timur Pulau Jawa

Hingga kini, istilah tersebut masih dipakai oleh masyarakat di berbagai daerah, terutama di lingkungan yang memiliki sejarah panjang dengan dunia perkeretaapian.

Sejumlah ahli bahasa menyebut bahwa kata sepur diduga berasal dari pengaruh bahasa Belanda pada masa kolonial. Salah satu pendapat mengaitkannya dengan kata spoor, yang dalam bahasa Belanda berarti rel kereta api atau jalur rel.

Seiring waktu, masyarakat Jawa diduga mengadaptasi penyebutannya menjadi sepur, lalu menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada kereta api secara keseluruhan.

Baca Juga: 5 Stasiun di Indonesia yang Dikenal Memiliki Kisah Mistis

Dalam bahasa Belanda sendiri, kata spoor tidak berarti kereta api, melainkan rel atau jalur. Namun, proses perubahan makna seperti ini cukup umum terjadi ketika suatu kata diserap ke dalam bahasa lain.

Masyarakat kemudian lebih mudah menyebut seluruh moda transportasinya sebagai sepur, meskipun asal katanya merujuk pada rel.

Selain digunakan dalam percakapan sehari-hari, istilah sepur juga banyak ditemukan dalam karya sastra, lagu daerah, hingga nama layanan wisata.

Salah satu yang paling dikenal adalah Sepur Kluthuk Jaladara, kereta wisata di Kota Surakarta yang menggunakan lokomotif uap dan melayani perjalanan melintasi pusat kota.

Penggunaan nama tersebut menunjukkan bahwa kata sepur masih memiliki nilai budaya yang kuat di tengah masyarakat Jawa.

Meski demikian, asal-usul kata sepur masih menjadi bahan kajian para ahli bahasa. Hingga kini belum ditemukan dokumen resmi yang secara tegas menyatakan kapan istilah tersebut pertama kali digunakan atau bagaimana proses penyerapannya secara pasti.

Baca Juga: Stasiun Kedungjati, Simpul Bersejarah Perkeretaapian di Jawa Tengah

Namun, pendapat yang mengaitkan sepur dengan kata Belanda spoor merupakan penjelasan yang paling banyak dijumpai dalam kajian bahasa dan sejarah perkeretaapian.

Saat ini, baik istilah kereta api maupun sepur sama-sama dipahami oleh masyarakat Indonesia. Perbedaannya terletak pada konteks penggunaan.

"Kereta api" merupakan istilah resmi dalam bahasa Indonesia, sedangkan "sepur" lebih banyak digunakan sebagai bagian dari identitas budaya dan bahasa masyarakat Jawa.

Keberadaan kata sepur menunjukkan bahwa perkembangan perkeretaapian di Indonesia tidak hanya meninggalkan jejak berupa rel dan stasiun, tetapi juga memperkaya kosakata yang masih digunakan hingga sekarang.

Sebuah kata sederhana yang menyimpan sejarah panjang pertemuan budaya, bahasa, dan teknologi transportasi.

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
kata sepur bahasa jawa asal usul