SOLOBALAPAN, NASIONAL — Sosok Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, belakangan ini terus menyita perhatian publik.
Di balik ketegasannya memimpin berbagai pembongkaran kasus korupsi kakap di tanah air, cerita masa muda sang jaksa ternyata menyimpan sisi humanis yang menarik untuk diulas.
Cerita nostalgia ini dibagikan oleh Jaelani, sahabat karib sekaligus teman satu angkatan Febrie saat menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Jambi (FH Unja) angkatan tahun 1986.
Jaelani, yang kini mengemban amanah sebagai Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Jambi, mengenang Febrie sebagai figur anak muda yang cerdas namun sangat membumi.
Masuk Kuliah Jalur Prestasi Tanpa Tes dan Luwes Bergaul
Menurut penuturan Jaelani, kecerdasan Febrie Adriansyah sudah terlihat sejak menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.
Febrie berhasil menembus ketatnya seleksi masuk FH Unja angkatan 1986 melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK), sebuah jalur prestasi khusus yang membuatnya diterima sebagai mahasiswa tanpa perlu mengikuti ujian tes tertulis.
Meski lahir di Jakarta pada 19 Februari 1968, Febrie menghabiskan hampir seluruh masa kecil hingga remajanya di Kota Jambi.
Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga tingkat menengah atas di Jambi sebelum akhirnya memilih hukum pidana sebagai spesialisasi draf keilmuannya saat sarjana.
Di mata teman-teman kuliahnya, Febrie dikenal sebagai sosok yang sangat luwes dan tidak tebang pilih dalam berteman. Ia memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap nasib kawan-kawannya di kampus.
Hobi Merakyat Masa Muda: Jaelani mengungkapkan salah satu kegemaran unik Febrie Adriansyah saat masih berstatus sebagai mahasiswa. Di sela-sela kesibukan akademisnya, Febrie rupanya sangat gemar bermain gaple (domino).
"Beliau memiliki hobi main gaple. Permainan ini memang sangat populer dan digemari oleh anak-anak muda di kawasan Sumatra, termasuk Jambi, pada masa-masa itu," kenang Jaelani tersenyum.
Tabel Biodata, Riwayat Pendidikan, dan Estafet Karier Jampidsus Febrie Adriansyah
Untuk mengenal lebih dekat latar belakang akademis serta rekam jejak panjang perjalanannya di Korps Adhyaksa hingga menduduki posisi elite, berikut adalah rangkuman datanya:
| Komponen Informasi | Rincian Data Fakta Lapangan | Catatan & Lokasi Penugasan |
| Nama Lengkap | Febrie Adriansyah | Menjabat sebagai Jampidsus Kejagung RI sejak Januari 2022. |
| Tempat, Tanggal Lahir | Jakarta, 19 Februari 1968 | Menghabiskan masa sekolah dan tumbuh besar di Jambi. |
| Riwayat Pendidikan |
• SD, SMP, SMA di Kota Jambi • S-1 Fakultas Hukum Universitas Jambi (FH Unja) • S-3 (Doktor Ilmu Hukum) Universitas Airlangga (Unair) |
Masuk S1 tahun 1986 melalui jalur prestasi (PMDK). |
| Rekam Jejak Karier |
• Kejari Sungai Penuh, Jambi • Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bandung • Aspidsus Kejati Jawa Timur • Wakajati DI Yogyakarta & Wakajati DKI Jakarta • Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT • Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung • Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta |
Meniti karier struktural secara merangkak dari bawah. |
Melahirkan Tokoh Tokoh Berpengaruh di Kancah Nasional
Fakultas Hukum Universitas Jambi angkatan 1986 tempat Febrie bernaung rupanya menjadi draf tempat lahirnya sejumlah tokoh penting yang kini menduduki posisi strategis, baik di tingkat draf birokrasi daerah maupun di level nasional.
Selain Febrie Adriansyah dan Jaelani, beberapa nama beken dari kelas tersebut antara lain adalah Sudirman yang saat ini sukses menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi.
Ada pula Sarjono Turin, rekan seprofesi Febrie di kejaksaan yang sempat menduduki posisi prestisius sebagai Kajati Sulawesi Tenggara, Kajati Sumatra Selatan, Sesjamintel, dan kini aktif menjabat sebagai Staf Ahli Jaksa Agung RI Bidang Antar Lembaga.
Kini, setelah kedua orang tuanya tiada, seluruh keluarga besar Febrie dikabarkan telah berpindah dan menetap di Jakarta.
Namun bagi para sahabat lamanya di Jambi, karakter Febrie sebagai pekerja keras yang supel, berwawasan luas, serta tidak melupakan teman lama akan selalu melekat kuat di draf ingatan kolektif alumni FH Unja 1986.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo