SOLOBALAPAN.COM — Perayaan Malam Satu Suro di Kota Solo yang mestinya kental dengan nuansa khidmat, sakral, dan penuh laku prihatin kini mendadak diwarnai kegaduhan di ranah digital.
Jagat media sosial seperti Instagram, X (Twitter), hingga Threads mendadak gempar oleh sebuah unggahan yang dinilai mencederai tatanan adat luhur Jawa.
Pusat perhatian publik tertuju pada figur publik bernama Paola Serena.
Netizen di berbagai penjuru, khususnya warga Solo dan keturunan Mataram Islam, melayangkan kecaman keras akibat sebuah foto yang dinilai tidak menempatkan budaya pada tempatnya yang terhormat.
Baca Juga: Power Bank Mendadak Meledak Saat Dicas, Rumah Warga Tawangmangu Karanganyar Dilalap Api
Kronologi Awal: Unggahan Foto Kebaya yang Memantik Amarah
Kejadian ini bermula saat selebgram Paola Serena membagikan dokumentasi pribadinya setelah menghadiri ritual Malam Satu Suro di Pura Mangkunegaran, Solo.
Dalam unggahan tersebut, tampak Paola berfoto bersama rekan-rekannya yang mengenakan busana adat. Namun, netizen bermata jeli langsung menangkap sebuah pemandangan yang dianggap sangat tabu dalam pakem busana adat Jawa.
Salah seorang rekan pria dari Paola Serena kedapatan menghadiri upacara sakral tersebut dengan mengenakan kebaya—busana yang dalam kodrat adat Jawa dikhususkan bagi kaum perempuan. Sontak saja, aksi nekat ini dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap kesakralan upacara adat.
Kritik tajam segera mengalir deras, salah satunya datang dari akun Thread @catatan_ali7 pada 17 Juni 2026 yang menumpahkan kemarahannya:
"B*ti biadab tolong jangan rusak Budaya Jawa kami. Cukup saja yang rusak kelakuan kalian, acara sakral itu bangsad bisa-bisanya bertitit pakai kebaya. Gua sebagai orang yang ada darah mataramnya nangis dan marah lihat boti pakai kebaya," ujarnya.
Unggahan itu langsung menggelinding bak bola salju. Banyak warganet yang mendesak sanksi sosial berupa cancel culture agar hal serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Akun @andakaraudi ikut berkomentar, "Gue gak tahu siapa dia dan gak mau tahu. Bagi yang kayak gue belum tahu siapa orangnya, mending gak usah tahu. Langsung skip aja jangan kepo, jangan kasih ruang, panggung / exposure. Langsung cancel culture, biar binasa," ujar akun @andakaraudi.
Baca Juga: ENHYPEN Siap Comeback Agustus, Jadi Perilisan Perdana sebagai Grup Beranggotakan Enam Member
Siapa Sebenarnya Paola Serena?
Bagi sebagian netizen, nama Paola Serena mungkin lebih akrab dikenal sebagai seorang influencer atau selebgram kecantikan. Namun bagi generasi 2000-an, wajahnya sudah malang melintang di layar kaca sejak usia remaja.
Memiliki nama lengkap Paola Serena Novelli Tobing, perempuan kelahiran 29 Juli 1990 ini merupakan adik kandung dari aktor kenamaan Giovani Yosafat Tobing.
Di masa mudanya, ia adalah bintang sinetron berbakat yang membintangi deretan judul populer seperti Inikah Rasanya, Culunnya Pacarku, Benci Bilang Cinta, hingga Sentuh Hatiku.
Saat ini, akun Instagram pribadinya @paola.serena telah mengantongi lebih dari 321 ribu pengikut, menjadikannya magnet atensi setiap kali mengunggah sesuatu.
Pembelaan "Fashion Tidak Punya Gender" Justru Berujung Blunder
Melihat gelombang protes yang semakin besar, Paola Serena sempat memberikan pernyataan terkait pemakaian busana janggal temannya yang diketahui bernama Rahardian tersebut.
Paola berdalih bahwa penggunaan kebaya oleh pria itu sudah mengantongi izin dari pihak penyelenggara domestik.
"Teman laki-lakiku yang kemarin di acara 1 Suro mengenakan kebaya dan aku berkomentar di postingan tersebut bahwa sudah diberikan izin untuk beliau mengenakan pakaian tersebut dari yang mengundang."
Namun, klarifikasi tersebut justru memicu keprihatinan yang lebih dalam. Sebagian pihak mengklaim ada pernyataan dari rombongan mereka yang menyebut bahwa fesyen bersifat netral gender.
Respons normatif di tengah acara sakral berbalut hukum adat ini dinilai sangat tidak sensitif, seperti yang dikeluhkan oleh akun @ayesha.ra17, "'Karena pakaian tidak punya jenis kelamin kawan', sungguh miris," jelas akun @ayesha.ra17.
Baca Juga: Namkoong Min dan Jin Ah Reum Umumkan Kehamilan Anak Pertama Setelah Empat Tahun Menikah
Kekecewaan mendalam juga disampaikan oleh warga Surakarta yang menganggap tindakan tersebut mencoreng keluhuran tradisi Suro.
Publik menilai, alasan kebebasan ekspresi fesyen tidak bisa diterapkan secara serampangan di dalam lingkungan istana (keraton/punden) yang memiliki pranata serta aturan mengikat sejak ratusan tahun lalu. (lz)
Editor : Laila Zakiya