Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dilantik Sore Ini, Deretan Kebijakan Nanik S. Deyang Jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana Jadi Sorotan, Apa Saja?

Laila Zakiya • Senin, 8 Juni 2026 | 12:03 WIB
Nanik Deyang, Wakil Kepala BGN.
Nanik Deyang, Wakil Kepala BGN.

 

SOLOBALAPAN.COM – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melantik Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) hari ini, Senin (8/6/2026) sore, di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Nanik ditunjuk secara resmi untuk menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot dari jabatannya imbas dari status hukumnya yang kini ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh Kejaksaan Agung.

Langkah berani Presiden Prabowo merombak jajaran pimpinan BGN ini dilakukan demi menyelamatkan sekaligus membenahi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa rekam jejak Nanik yang sangat disiplin dan berani mengambil tindakan tegas menjadi alasan utama di balik penunjukannya.

Sambil menunggu prosesi pelantikan sore ini, publik mulai menyoroti gebrakan baru serta deretan kebijakan ekstrem yang mulai diterapkan oleh Nanik demi memulihkan nama baik lembaga. Apa saja langkah strategis tersebut? Berikut ulasan lengkapnya.

Baca Juga: Sempat Crash di FP2 Moto3 Hungaria 2026, Begini Kondisi Terkini Veda Ega Pratama

Alasan Prabowo Copot Dadan Hindayana dan Pilih Nanik S. Deyang

Pergantian pimpinan ini merupakan respons cepat pemerintah setelah eks Kepala BGN Dadan Hindayana, eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya, dan eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dicopot lalu langsung ditahan kejaksaan karena dugaan penyelewengan anggaran negara.

Untuk mengisi kekosongan, Presiden Prabowo melantik Nanik bersama dua pimpinan baru, yakni Mayjen TNI Trenggono dan Agustina Arumsari sebagai Wakil Kepala BGN.

Presiden Prabowo menilai Nanik, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN sejak 17 September 2025, memiliki ketegasan instingtif dalam memimpin operasional di lapangan.

"Kedisiplinan di dalam menjalankan manajemen di Badan Gizi Nasional, kedisiplinan juga di dalam menjaga kualitas makanan yang kita sajikan kepada seluruh penerima manfaat," kata Prasetyo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/6/2026).

Prasetyo menambahkan bahwa dalam proses evaluasi selama ini, Nanik terbukti konsisten dan tidak berkompromi terhadap pelanggaran standar operasional prosedur (SOP).

"Dalam evaluasi dan monitoring, beliau salah satu yang cukup, kalau boleh dibilang sangat strict, sangat tegas," kata Prasetyo.

"Dengan pengalaman dan karakter kepemimpinan beliau, kami minta untuk sesegera mungkin melakukan perbaikan-perbaikan dan pembenahan-pembenahan di Badan Gizi Nasional," lanjutnya.

Baca Juga: Dua Tahun Putus Sekolah di Solo, Fika Kembali Menata Mimpi Lewat PKBM Bunga Kantil

Jejak Rekam Ketegasan Nanik: Tutup Puluhan Dapur Bermasalah

Karakter tegas Nanik S. Deyang sebenarnya sudah teperhatikan sejak dirinya memimpin penanganan kasus keracunan massal yang sempat menimpa ribuan anak sekolah penerima MBG pada akhir tahun lalu.

Berbeda dengan pejabat publik pada umumnya, Nanik secara ksatria menangis di depan awak media dan meminta maaf secara terbuka kepada seluruh orang tua di Indonesia atas insiden tersebut.

"Jadi sekali lagi, kepada anak-anakku tercinta di seluruh Indonesia dan juga kepada seluruh orang tua, saya meminta maaf atas nama Badan Gizi Nasional (BGN), dan saya berjanji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi," katanya, sambil terisak dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9/2025).

Tidak sekadar meminta maaf, ia langsung menjatuhkan sanksi berat berupa penutupan massal terhadap puluhan mitra dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kedapatan lalai menjaga kebersihan masakan.

"Dari 45 dapur tersebut, kami telah menyatakan 40 di antaranya ditutup tanpa batas waktu," kata Nanik saat itu. Ia bahkan memberikan ultimatum satu bulan bagi seluruh mitra untuk melengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sertifikasi halal, dan sertifikat kelayakan air, serta mewajibkan setiap dapur MBG dipimpin oleh koki bersertifikasi resmi demi menjamin keamanan pangan anak-anak.

Baca Juga: Viral di Threads! Penonton Kecewa XXI Kembali Larang Bawa Tumbler ke Dalam Bioskop, Dinilai Plin-Plan Warganet

4 Kebijakan Baru Nanik S. Deyang yang Jadi Sorotan Utama

Begitu ditunjuk menduduki kursi nomor satu di BGN, Nanik langsung tancap gas mengubah arah haluan program dengan berfokus pada efisiensi anggaran dan peningkatan kualitas operasional.

"Kami concern hal pertama yang kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran. Kami berharap masih bisa menurunkan lagi, namun tidak mengurangi sasaran," kata Nanik dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (4/6/2026).

Berikut adalah empat kebijakan strategis utama yang mulai dijalankan oleh Nanik:

1. Tidak Lagi Mengejar Kuantitas Penerima MBG

BGN kini memilih menggeser fokus dari aspek kuantitas menuju kualitas.

Nanik secara jujur telah meminta izin kepada Presiden Prabowo bahwa target penerima MBG di tahun 2026 kemungkinan besar tidak akan dipaksakan mencapai angka target awal sebanyak 82,9 juta orang demi memastikan standar gizi terjaga sempurna.

"Kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini mohon bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta," ujarnya.

2. Moratorium Pembangunan SPPG Baru

BGN secara resmi menghentikan sementara penambahan pendaftaran dapur baru di wilayah kecamatan yang kuotanya sudah terpenuhi.

Kebijakan moratorium ini diambil agar tim bisa fokus membenahi sarana fisik dan operasional ribuan dapur yang sudah berjalan.

"Kalau dapur itu tidak sesuai, tentu kami akan lakukan suspend," tegas Nanik. "Jadi moratorium. Nanti kalau kita lihat kurang, baru kita buka lagi pendaftarannya. Jadi kami beresin dulu," imbuhnya.

3. Fokus Memperluas MBG di Daerah 3T Tanpa Beban APBN Otomatis

BGN berkomitmen mempercepat perluasan jangkauan konsumsi makanan bergizi di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Namun, strateginya kini diubah agar tidak membebani kas negara 100 persen, melainkan menggandeng dana CSR perusahaan swasta, yayasan, hingga dana hibah negara sahabat.

BGN juga akan memaksimalkan penggunaan dapur sekolah yang sudah ada tanpa harus membangun gedung baru.

"Jadi ada beberapa alternatif. Intinya untuk mengurangi beban anggaran APBN yang dulu kan full 100 persen mau dibiayai oleh APBN. Nah, dan kita juga intinya tidak harus membangun dapur baru, itu prinsipnya," terangnya.

Baca Juga: Viral! Pelaku Curanmor Tewas Ditembak Polisi, Sang Istri Tak Terima Sebut Suaminya Tak Melawan Saat Ditangkap

4. Fokus pada Kelompok Prioritas "3B"

Berdasarkan rekomendasi para pakar kesehatan anak dan akademisi, intervensi gizi paling krusial terletak pada masa awal pertumbuhan.

Oleh sebab itu, BGN kini mewajibkan setiap dapur pelayanan memprioritaskan kelompok 3B, yaitu Ibu Hamil (Bumil), Ibu Menyusui (Busui), dan Balita.

"Intervensi gizi itu paling bagus adalah saat mulai kandungan bulan pertama sampai usia 9 tahun atau sampai SD. Nah, kita yang kejar ke sana," jelasnya.

"Nah, itulah kira-kira ya, pokoknya fokus, biar anggarannya juga fokus dan targetnya tercapai," kata Nanik menutup pembicaraan. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#Nanik S. Deyang #Dadan Hindayana #BGN