Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenang Slamet Suradio, Masinis Tragedi Bintaro 1987 yang Tutup Usia di Umur 87 Tahun, Ini Perjalanan Karirnya

Didi Agung Eko Purnomo • Kamis, 4 Juni 2026 | 16:33 WIB
Slamet Suradio.
Slamet Suradio.

SOLOBALAPAN, NASIONAL — Dunia perkeretaapian Indonesia tengah diselimuti awan duka.

Sosok masinis legendaris, Slamet Suradio, yang namanya lekat dengan sejarah kelam Tragedi Bintaro 1987, dikabarkan telah meninggal dunia pada Rabu (3/6/2026) dini hari.

Pria yang akrab disapa Mbah Slamet tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada usia 87 tahun di Bekasi, sebelum akhirnya dipulangkan untuk dimakamkan di kampung halamannya.

Kepergiannya menandai akhir dari perjalanan panjang seorang pria yang selama puluhan tahun harus hidup memikul beban sejarah dan trauma mendalam.

Berpulangnya Sang Saksi Sejarah

Kabar wafatnya Mbah Slamet dengan cepat menyebar dan mengundang simpati publik yang mengetahui kisah hidupnya.

Jenazah almarhum dibawa menuju Desa Gintungan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang telah lama menjadi tempatnya bernaung di masa tua.

Baca Juga: Dulu Dapat Pangkat Kehormatan dari Prabowo, Lodewyk Pusung Jenderal Bintang 3 Kini Jadi Tersangka Korupsi MBG

Kabar duka ini turut dibenarkan oleh perangkat desa setempat.

"Ya, tadi malam sekitar pukul 02.00 dini hari kami mendapatkan kabar Mbah Slamet meninggal dan dimakamkan di desa kami," ungkap Jafar, Sekretaris Desa Gintungan.

Mengingat Kembali Tragedi Bintaro 1987

Nama Slamet Suradio dikenal luas oleh publik sebagai masinis yang mengemudikan KA 225 rute Rangkasbitung–Tanah Abang pada 19 Oktober 1987.

Pada hari nahas tersebut, kereta yang dikemudikannya bertabrakan hebat dengan KA 220 Patas Merak di kawasan Pondok Betung, Bintaro.

Tabrakan dahsyat tersebut tercatat sebagai salah satu kecelakaan transportasi paling memilukan di Indonesia:

Sayangnya, di mata publik saat itu, nama Mbah Slamet telanjur menjadi kambing hitam. Ia harus menghadapi stigma sosial yang luar biasa berat sepanjang hidupnya.

Rekam Jejak dan Akhir Kehidupan yang Sederhana

Pengabdian Mbah Slamet di dunia perkeretaapian harus berakhir dengan cara yang tragis. Setelah Tragedi Bintaro, hidupnya berubah drastis dari seorang pelayan publik menjadi pesakitan.

Berikut adalah linimasa perjalanan karier dan kehidupan Slamet Suradio:

Tahun Peristiwa / Fase Kehidupan
1939 Lahir pada 18 Agustus 1939.
1964 Mulai bekerja di PNKA (kini PT KAI) di bagian perawatan kereta.
1966 Lulus ujian asisten masinis.
1971 Resmi diangkat menjadi masinis dengan pangkat pengatur muda.
1987 Menjadi masinis KA 225 yang terlibat dalam Tragedi Bintaro.
1988 Dijatuhi hukuman 5 tahun penjara (bebas setelah 3,5 tahun berkat remisi).
1996 Diberhentikan secara tidak hormat oleh Departemen Perhubungan.

Pasca-bebas dari Lapas Cipinang, Mbah Slamet harus menelan kenyataan pahit:

Kini, sosok yang oleh banyak pihak dinilai sebagai korban dari kegagalan sistem masa lalu itu telah beristirahat dengan tenang.

Jejak dan nama Mbah Slamet Suradio akan selalu menjadi pengingat penting dalam sejarah perkeretaapian nasional Indonesia.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Slamet Suradio #Tragedi Bintaro #masinis