Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kenapa Chef Juna Viral? Sebut SDM Pria di Tanah Air Manja, Begini Kalimat Kontroversial Sang Juri Masterchef

Laila Zakiya • Jumat, 22 Mei 2026 | 08:52 WIB
Chef Juna jadi sorotan usai menjadi bintang tamu di podcast Raditya Dika. (Tangkapan Layar YouTube Raditya Dika)
Chef Juna jadi sorotan usai menjadi bintang tamu di podcast Raditya Dika. (Tangkapan Layar YouTube Raditya Dika)

 

SOLOBALAPAN.COM – Nama Chef Juna kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial usai pernyataannya dalam podcast bersama Raditya Dika viral dan memicu pro kontra publik.

Juri MasterChef Indonesia itu menjadi sorotan setelah menyinggung soal kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, khususnya di lingkungan professional kitchen yang menurutnya membutuhkan disiplin tinggi dan ritme kerja ketat.

Dalam pembahasannya, Chef Juna secara terang-terangan menyampaikan pandangannya mengenai kultur kerja di dapur profesional.

“SDM kita manja,” kata Chef Juna.

Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan pengalamannya menghadapi staf dapur yang izin tidak masuk kerja lantaran anak sakit.

Chef Juna mencontohkan alasan yang menurutnya kerap ia dengar dari pekerja di dapur profesional.

“Chef, sorry, saya tidak bisa berangkat kerja. Anak saya panas, sakit,” ungkap Chef Juna sembari menirukan alasan yang kerap didengarnya.

Namun, pernyataan yang paling memantik kontroversi muncul ketika ia mempertanyakan keputusan seorang pekerja yang memilih tetap berada di rumah meski anak yang sakit masih memiliki pendamping.

Call me heartless, yang sakit kan anaknya. Istrinya ada di rumah. Terus ngapain kamu ikut-ikutan di rumah? Emang kamu ikutan di rumah anak kamu sembuh tiba-tiba? No,” sambungnya.

Baca Juga: Ribuan Suporter Persis Solo Geruduk Lapangan Kotabarat Bakar Semangat Laskar Sambernyawa Jelang Laga Hidup-Mati

Alasan Chef Juna Sebut Dunia Professional Kitchen Butuh Disiplin Tinggi

Dalam penjelasannya, Chef Juna menegaskan bahwa dunia professional kitchen berbeda dengan lingkungan kerja biasa.

Menurutnya, setiap posisi memiliki tanggung jawab yang spesifik. Terutama bagi pekerja yang berada di level Chef de Partie (CDP), posisi yang bertanggung jawab terhadap satu stasiun kerja tertentu di dapur.

Chef de Partie sendiri dikenal sebagai koki profesional yang memimpin satu area khusus dalam operasional dapur, mulai dari bagian pastry, grill, sauté hingga garde manger.

Tugasnya tidak hanya memasak, tetapi juga mengatur persiapan bahan, mengawasi staf junior, menjaga kualitas makanan, hingga memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan tetap terjaga.

Karena itu, absennya satu orang saja disebut bisa berdampak langsung pada jalannya operasional.

Chef Juna bahkan menggambarkan dapur profesional layaknya pertunjukan musik besar yang seluruh elemennya saling terhubung.

“Professional kitchen itu boleh disamakan dengan orkestra. Masing-masing alat musik ada yang pegang. Satu orkestra tiba-tiba yang pegang flute atau saksofon nggak masuk, jadi mau ngapain?,” jelasnya.

Ia juga menilai pekerja perlu mempertimbangkan aspek finansial ketika memutuskan tidak bekerja, apalagi saat keluarga sedang membutuhkan biaya pengobatan.

“Anak sudah sakit, perlu biaya pengobatan, kamu enggak kerja lagi, tiba-tiba kan potong gaji,” kata Chef Juna.

Meski demikian, Chef Juna mengakui bahwa persoalan ini juga berkaitan dengan kultur kerja yang berkembang di Indonesia.

“Karena itu culture di sini ya, jadi agak berat juga. Jadi memang orang kita agak manja. Saya ngomong professional kitchen ya,” tegasnya.

Baca Juga: Saling Lempar Tanggung Jawab, Pemkot dan DPRD Solo Gagap Eksekusi Penutupan Usaha Miras Ilegal

Reaksi Netizen Terbelah, Ada yang Setuju hingga Kritik Soal Empati

Ucapan Chef Juna tersebut langsung menyulut perdebatan di media sosial X.

Sebagian warganet menilai pernyataan itu terlalu keras dan kurang menunjukkan empati terhadap dinamika keluarga, terutama soal peran ayah saat anak sakit.

"Sakit atau ngurus anak sakit itu bukan 'manja', tapi bagian dari dinamika hidup manusia. Gak semua urusan domestik bisa dibebasin ke istri sendirian, apalagi kalau kondisi anaknya darurat atau butuh support system dari kedua orang tuanya. Profesional boleh, tapi jangan sampai hilang empati," tulis akun X @uya***.

Namun, ada juga pengguna media sosial yang mengaku memahami sudut pandang Chef Juna terkait kedisiplinan kerja.

"Aku sedikit setuju sama chef juna ini, beda klo karyawannya seorang ibu atau misal sakitnya yg sampe masuk RS dan harus gantian jaga. Pegawaiku jg gt awalnya dia sakit izin, istri sakit izin, anak sakit izin, lama2 anak ulangtahun izin juga. Apa cobaa," tulis @rum***.

Sementara itu, kritik keras juga datang dari pihak yang menilai pernyataan tersebut terlalu membebankan urusan domestik kepada perempuan.

"Pengusaha songong, berasa udah NGASIH gaji yg layak aja. Apa lagi pengusaha2 yg di reply berasa ga punya empati semua. Semua harus dilimpahkan ke perempuan, sementara urus anak sakit itu benar2 bikin overwhelmed terutama bayi. Kalian itu penguasa cheap labour, BEREMPATI DIKIT WOY," tulis @se***.

Viralnya pernyataan Chef Juna pun memperlihatkan benturan dua sudut pandang yang berbeda: standar disiplin tinggi di dunia professional kitchen dan perdebatan soal empati, peran keluarga, serta budaya kerja di Indonesia. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#Juna Rorimpandey #Chef Juna #raditya dika #MasterChef Indonesia