SOLOBALAPAN.COM - Polemik Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat terus melebar dan kini memasuki ranah hukum.
Setelah viralnya video perdebatan antara peserta dan dewan juri di media sosial, kini juri hingga pembawa acara lomba resmi digugat ke Pengadilan Negeri Jakarta.
Kasus ini bermula dari kontroversi penilaian dalam babak final LCC 4 Pilar Kalbar yang mempertemukan peserta dari SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas.
Dalam video yang ramai beredar di TikTok dan X, jawaban peserta dari SMAN 1 Pontianak dianggap salah oleh juri karena dinilai kurang jelas secara artikulasi.
Namun publik kemudian menyoroti fakta bahwa jawaban serupa dari regu lain justru dinyatakan benar. Situasi tersebut memicu protes peserta di arena lomba hingga gelombang kritik dari warganet terhadap objektivitas dewan juri.
Baca Juga: DPRD Solo Matangkan Raperda Digitalisasi PAD, Kebocoran Pendapatan Jadi Sorotan
Juri dan MC Digugat ke Pengadilan Negeri Jakarta
Advokat David Tobing resmi melayangkan gugatan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar. Gugatan itu tercatat dengan nomor register L JKT.PST-12052026HYC tertanggal 12 Mei 2026.
Dalam gugatan tersebut, Ketua MPR RI Ahmad Muzani turut menjadi tergugat pertama.
Sementara itu, pejabat Setjen MPR RI yang menjadi sorotan publik ikut tercantum sebagai tergugat, yakni Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni.
Tak hanya juri, MC lomba yakni Shindy Lutfiana juga ikut digugat dalam perkara tersebut.
David Tobing menilai proses penilaian dalam kompetisi tersebut tidak mencerminkan profesionalitas dan asas keadilan bagi peserta.
Ia bahkan meminta agar pihak terkait memberikan permintaan maaf terbuka kepada siswa dan guru SMAN 1 Pontianak. Dalam petitumnya, David juga meminta agar juri yang terlibat diberhentikan secara tidak hormat dari jabatan di lingkungan MPR RI.
MC LCC 4 Pilar Jadi Sasaran Kritik
Nama Shindy Lutfiana ikut menjadi sorotan setelah ucapannya saat lomba viral di media sosial. Pernyataannya yang menyebut protes peserta hanya “perasaan adik-adik saja” memicu kemarahan publik.
Di tengah derasnya kritik, akun Instagram pribadi Shindy sempat menghilang dari media sosial. Warganet menilai langkah tersebut sebagai bentuk menghindari sorotan publik.
Belakangan, Shindy kembali muncul menggunakan akun baru bernama @shindy_mcwedding dan menyampaikan permintaan maaf tertulis terkait pernyataannya saat final berlangsung.
“Mohon izin untuk menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan saya yang beredar luas di media sosial saat pelaksanaan babak final berlangsung,” tulisnya.
Meski demikian, permintaan maaf tersebut tetap menuai respons negatif dari warganet. Banyak yang menilai klarifikasi tertulis belum cukup menjawab polemik yang terlanjur viral.
Baca Juga: Boyolali Resmi Jadi Tuan Rumah Liga 4 Nasional 2025/2026, Stadion Kebogiro Siap Sambut 64 Besar!
Status Indri Wahyuni dan Reaksi Warganet Bikin Polemik Memanas
Di sisi lain, sikap Indri Wahyuni juga kembali memicu perdebatan setelah sejumlah status WhatsApp pribadinya tersebar di media sosial.
Dalam unggahan yang ramai diperbincangkan, Indri membela kemenangan SMAN 1 Sambas dan menyebut sekolah tersebut tetap layak menjadi juara nasional.
Pernyataan itu justru dianggap semakin memperkeruh suasana karena publik menilai inti masalah bukan terletak pada sekolah pemenang, melainkan pada konsistensi penilaian dewan juri.
Banyak netizen menilai polemik ini telah berkembang jauh dari sekadar lomba pelajar. Publik kini menyoroti integritas sistem penjurian hingga profesionalisme penyelenggara kegiatan nasional.
SMAN 1 Sambas Ikut Jadi Sasaran Netizen
Di tengah polemik yang terus bergulir, akun media sosial SMAN 1 Sambas ikut menjadi sasaran komentar publik.
Sekolah yang keluar sebagai pemenang LCC 4 Pilar Kalbar itu diketahui menutup kolom komentar di sejumlah unggahan Instagram mereka.
Namun, beberapa unggahan lama yang masih terbuka tetap dibanjiri komentar dari warganet yang menyinggung kontroversi lomba tersebut.
Sebagian netizen meminta pihak sekolah tidak terseret terlalu jauh dalam polemik yang sebenarnya lebih banyak menyoroti keputusan juri dan penyelenggara lomba.
Baca Juga: Hampir 6 Ribu Anak di Boyolali Tak Sekolah, Disdik Akui Belum Verifikasi Data
MPR RI Janji Evaluasi Total
Sebelumnya, pihak MPR RI telah menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang terjadi dalam Final LCC 4 Pilar Kalbar.
Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman mengakui adanya kelalaian dalam mekanisme penilaian dan memastikan kasus tersebut akan dievaluasi secara menyeluruh.
Polemik LCC 4 Pilar kini bukan lagi sekadar perdebatan soal benar atau salahnya jawaban peserta. Kasus ini berkembang menjadi sorotan nasional terkait transparansi, objektivitas, dan profesionalisme dalam ajang pendidikan yang membawa nama lembaga negara. (lz)
Editor : Laila Zakiya