SOLOBALAPAN.COM – Kondisi infrastruktur militer yang babak belur usai dibombardir oleh Amerika Serikat dan Israel memaksa Iran untuk segera mengambil langkah taktis.
Teheran dilaporkan tengah mempercepat negosiasi dengan Rusia dan China guna mendapatkan pasokan sistem rudal canggih terbaru.
Berdasarkan laporan Financial Times (FT), manuver pengadaan senjata militer ini sebenarnya sudah mulai diintensifkan sejak meletusnya "Perang 12 Hari" dengan Israel pada Juni 2025 lalu, dan terus berlanjut hingga detik ini meski embargo senjata internasional telah diberlakukan kembali.
Mengabaikan Sanksi 'Snapback' PBB
Langkah Iran mencari sekutu militer ini tak lepas dari runtuhnya kesepakatan nuklir.
Setelah dialog dengan AS di awal 2025 gagal dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan Iran melanggar komitmen nuklirnya pada 12 Juni 2025, Israel langsung meluncurkan Operation Rising Lion di hari berikutnya yang disusul oleh gempuran pesawat tempur AS.
Negara-negara Eropa atau "E3" (Prancis, Jerman, dan Inggris) yang mencoba memediasi akhirnya menyerah.
Pada akhir Agustus 2025, E3 memicu ketentuan 'snapback' dari Resolusi 2231 PBB yang memulihkan kembali embargo senjata secara penuh terhadap Iran pada akhir September.
Namun, sanksi tersebut seolah dianggap angin lalu oleh Moskow dan Beijing.
"Kami tidak mengakui pemberlakuan kembali sanksi itu," tegas Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia.
Senada dengan Rusia, Kementerian Luar Negeri China juga menentang keras pembatasan sepihak tersebut. Alhasil, kedua negara adidaya ini terus melanjutkan negosiasi penjualan senjata dengan Teheran.
Bantuan Rusia: Rudal Panggul 'Verba' Senilai €495 Juta
Dari pihak Rusia, Iran dipastikan akan mendapatkan suntikan tenaga untuk sektor pertahanan udara jarak dekat.
Berdasarkan laporan FT pada 22 Februari, Iran dan Moskow telah menyepakati pengadaan sistem anti-pesawat portabel (MANPADS) jenis 9K336 'Verba'.
Berikut adalah rincian kesepakatan senjata antara Iran dan Rusia:
-
Nilai Kontrak: Mencapai €495 juta (sekitar $584 juta).
-
Kuantitas: 500 unit peluncur dan 2.500 rudal 9M336.
-
Jadwal Pengiriman: Akan dikirim dalam tiga gelombang selama periode 2027–2029 (namun intelijen menduga beberapa unit sudah tiba lebih awal di Iran).
-
Spesifikasi: Sistem rudal panggul ini sangat efektif menargetkan helikopter dan drone di ketinggian rendah (10 hingga 4.500 meter) dengan jangkauan maksimal 6,5 kilometer.
Bantuan China: Ancaman Supersonik di Teluk Persia
Sementara itu, dari pihak Beijing, Iran tengah menegosiasikan pasokan rudal anti-kapal CM-302 (versi ekspor dari rudal YJ-12 yang mematikan).
Pembicaraan yang dimulai sejak 2024 ini dilaporkan sudah 'hampir' mencapai kesepakatan final.
Rudal CM-302 ini bukan senjata sembarangan.
Bergerak dengan kecepatan supersonik dan mampu menghantam target sejauh 290 kilometer, kehadiran rudal ini akan menjadi ancaman nyata bagi kapal perang AS maupun kapal komersial yang melintasi jalur padat di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Meski kesepakatan dengan Rusia sudah di atas kertas, sumber dari Reuters menyebutkan bahwa negosiasi CM-302 dengan China masih bisa berubah.
Beijing dikabarkan masih menimbang ulang dan bisa saja membatalkan penjualan tersebut mengingat panasnya eskalasi politik di Timur Tengah dan potensi konfrontasi langsung dengan militer AS. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo