SOLOBALAPAN.COM - Eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini merembet ke kawasan Teluk.
Dua landmark ikonik di Dubai, Uni Emirat Arab, dilaporkan terdampak insiden serangan balasan yang dilancarkan Teheran.
Serangan ini menjadi bagian dari gelombang balasan Iran terhadap operasi militer AS-Israel yang sebelumnya menghantam sejumlah target strategis di wilayahnya.
Bandara Internasional Dubai Alami Kerusakan
Landmark pertama yang terdampak adalah Bandara Internasional Dubai (DXB), salah satu bandara tersibuk di dunia.
Otoritas setempat mengonfirmasi adanya insiden yang menyebabkan kerusakan ringan di area bandara.
"sebuah ruang tunggu di Bandara Internasional Dubai (DXB) mengalami kerusakan ringan dalam sebuah insiden, yang dengan cepat diatasi,"
Empat orang dilaporkan terluka dalam kejadian tersebut.
Sumber penerbangan menyebut salah satu terminal terdampak akibat serangan yang dikaitkan dengan eskalasi konflik regional.
Sebagai simpul utama perjalanan udara timur-barat, gangguan di bandara ini langsung berdampak luas.
Sejumlah maskapai menangguhkan rute ke dan dari Dubai serta kota-kota lain di kawasan, termasuk Abu Dhabi.
Data pelacakan penerbangan bahkan menunjukkan wilayah udara Teluk sempat hampir kosong.
Burj Al Arab Tersentuh Dampak Drone
Selain bandara, hotel mewah Burj Al Arab juga terdampak.
Otoritas Dubai mengonfirmasi sebuah drone berhasil dicegat, namun puingnya memicu kebakaran kecil di bagian fasad luar hotel.
Ikon berbentuk layar kapal yang berdiri di pulau buatan lepas Pantai Jumeirah itu menjadi simbol kemewahan Dubai sejak dibuka pada 1999.
Insiden lain juga dilaporkan terjadi di sekitar kawasan Palm Jumeirah, area hunian dan resor prestisius di kota tersebut.
IRGC Klaim Serangan ke Basis AS dan Israel
Serangan yang berdampak hingga Dubai disebut sebagai bagian dari gelombang keenam balasan Iran.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pihaknya meluncurkan rudal dan drone besar-besaran ke pangkalan militer Israel dan AS di kawasan Arab.
"Sirene dibunyikan di beberapa wilayah di seluruh negeri, menyusul identifikasi rudal yang diluncurkan dari Iran ke arah Negara Israel," ujar militer sambil menambahkan bahwa angkatan udara 'beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman jika diperlukan'.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di Doha (Qatar), Manama (Bahrain), hingga Erbil (Irak), lokasi yang diketahui menjadi basis pasukan koalisi pimpinan AS.
Trump Siapkan Operasi “Epic Fury”
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan penuh menghadapi Iran.
Militer AS bahkan menamai operasi serangan ini sebagai "Epic Fury". Gedung Putih menyebut operasi dapat berlangsung beberapa hari.
"Pemerintahan saya telah mengambil setiap langkah yang mungkin untuk meminimalkan risiko terhadap pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun demikian, dan saya tidak mengatakan ini dengan enteng, rezim Iran berupaya untuk membunuh," kata Trump dalam sebuah video yang dibagikan di Truth Social, dikutip dari Reuters.
"Nyawa para pahlawan AS yang gagah berani mungkin akan hilang dan mungkin korban jiwa akan berjatuhan. Itu sering terjadi dalam perang, tetapi kita melakukan ini, bukan untuk sekarang. Kita melakukan ini untuk masa depan, dan ini adalah misi yang mulia," terangnya.
Trump juga menegaskan bahwa Iran telah menolak berbagai peluang diplomasi.
"Iran menolak, seperti yang telah mereka lakukan selama beberapa dekade. Mereka menolak setiap kesempatan untuk melepaskan ambisi nuklir mereka, dan kita sudah tidak tahan lagi," ujar Trump.
Bahkan dalam pernyataan terpisah, Trump menyerukan pesan keras kepada warga Iran.
"Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi," lanjutnya, ditujukan ke warga Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran global karena kawasan Teluk merupakan pusat perdagangan, energi, dan jalur penerbangan internasional.
Dengan operasi militer yang masih berlangsung dan ancaman serangan balasan berikutnya, dunia kini menanti apakah konflik Iran vs AS-Israel akan terus meluas atau kembali ke meja diplomasi. (lz)
Editor : Laila Zakiya