SOLOBALAPAN.COM - Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak menjadi sorotan nasional setelah pernyataannya soal kewarganegaraan anak menuai kemarahan publik.
Namun, di balik polemik WNA dan beasiswa negara, muncul cerita lain yang tak kalah mengejutkan: sejumlah pengakuan dari orang-orang yang mengaku pernah mengenalnya sejak lama.
Mulai dari mantan kakak kelas, rekan kerja, vendor jasa, hingga tetangga, satu per satu angkat suara.
Mereka menyebut kontroversi yang kini menyeret nama Dwi Sasetyaningtyas bukanlah kejadian tunggal, melainkan puncak dari rangkaian perilaku yang sudah lama dirasakan banyak pihak.
Viral WNA, Publik Murka, Negara Turun Tangan
Polemik bermula saat Dwi Sasetyaningtyas memamerkan status kewarganegaraan asing anaknya dan menyatakan tidak ingin anak-anaknya menjadi WNI.
Ucapan tersebut memicu kemarahan publik, terutama karena Dwi dan suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, diketahui merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Reaksi keras datang dari pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa dana beasiswa yang dinikmati pasangan tersebut berasal dari pajak dan utang negara.
"Tadi sudah bicara dengan dia ke Dirut LPDP, tadi sudah bicara dengan suami terkait dan sepertinya dia sudah setuju untuk mengembalikan uang yang pakai LPDP, termasuk bunganya. Kalau uang saya taruh di bank ada bunga juga kan," ucap Purbaya.
Purbaya juga menekankan bahwa negara tidak bisa mentoleransi dana publik dipakai oleh pihak yang justru merendahkan negaranya sendiri.
"Saya harapkan teman-teman yang dapat LPDP, kalau nggak seneng , yang enggak (sama pemerintah), tapi jangan hina negara lah. Itu uang dari pajak dan sebagian utang untuk pastikan SDM kita tumbuh. Tapi kalo dipakai untuk hina negara, kita minta uang dan pajaknya," sambungnya.
Bahkan, ia menyebut kemungkinan pemblokiran akses di seluruh lingkungan pemerintahan.
"Nanti akan saya blacklist dia, di seluruh pemerintahan nggak akan bisa masuk, nanti akan kita kalian lihat blacklist-nya seperti apa. Jadi jangan menghina negara anda sendiri," kata Purbaya.
Pengakuan Kenalan Lama: “Sejak Kuliah Sudah Begitu”
Di tengah panasnya isu pengembalian dana LPDP, media sosial diramaikan kesaksian dari orang-orang yang mengaku pernah berinteraksi langsung dengan Dwi Sasetyaningtyas jauh sebelum kasus ini viral.
Akun Threads @artbynega, yang mengaku sebagai kakak kelas Dwi, menyampaikan pengalamannya secara terbuka:
"no kak, dia dan suaminya dari dulu emang entitled begitu koq. sy kenal personally dgn mrk wkt mrk pake jasa sy beberapa wkt. mbak saset ini emang mudah ngamuk, mudah maki orang. merasa mrk lbh tinggi dr orang lain,"
Ia bahkan mengaku menyaksikan langsung Dwi meluapkan emosi kepada orangtuanya sendiri.
"pdhl sy kakak kelas alumninya, mrk pake jasa sy secara kekeluargaan, trnyata sy yg trauma. sy menyaksikan sendiri mbak ini tantrum ke ortunya meledak2. ke vendor lain. dan mrk ngeviralkan buruk usaha sy, gak nyangka akhirnya ada keadilan yg 100x lbh viral buat keburukan mereka,"
Kesaksian serupa datang dari akun @ayud.ya yang menyebut temannya pernah menjadi korban amarah Dwi hanya karena persoalan kecil.
"Kaakk seriuss?! Dia pernah jadi klien temenku, temnku pernah di teriakin sm dia di telepon, dia tantrum cuma grgr ada hal yg ga sesuai sm yg dia mau pdhl itu minor dan masih bisa di bicarakan baik-baik, ku kira ke kami doang dia kayak gt. Ternyata oh ternyataa,"
Tetangga Ikut Bicara: Disebut Pernah “Menyidang” Tengah Malam
Tak hanya rekan lama, seorang tetangga Dwi juga mengungkap pengalaman traumatisnya.
Ia mengaku pernah disidang oleh Dwi Sasetyaningtyas pada tengah malam karena suatu urusan.
"Ybs tetanggaku di Limo Depok, relate dengan pengalaman kaka. Buah busuk ngga usah dicucuk emang, pada waktunya dia jatuh sendiri,"
Ia pun menyarankan agar Dwi mencari bantuan profesional demi perkembangan karakter yang lebih konstruktif.
Bahkan, ada pula yang menyebut karakter serupa juga melekat pada sang suami.
"Iya saya bisa confirm benar. Beberapa Temen saya yg kebetulan seangkatan waktu di ITB bilang, mereka berdua sejak mahasiswa juga yg entitled, sok paling tinggi (entah tinggi badan, kasta sosial, yg pasti gak jelas) dan sering memandang rendah orang lain," tulis akun @nabhanchoiron.
Klarifikasi Dwi Sasetyaningtyas dan Fakta Pengawasan LPDP
Di sisi lain, Dwi Sasetyaningtyas telah menyampaikan klarifikasi bahwa ucapannya lahir dari kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, bukan kebencian terhadap negara.
Ia menegaskan telah menunaikan kewajiban pengabdian selama enam tahun di Indonesia dan menganggap kritik sebagai hak warga negara pembayar pajak.
Namun, polemik ini juga membuka fakta bahwa pergerakan Arya Pamungkas Iwantoro ternyata sudah lama dipantau oleh LPDP.
Direktur Utama LPDP, Sudarto, mengungkap bahwa Arya termasuk dalam kelompok awardee yang berada dalam radar pengawasan karena belum menuntaskan kewajiban kontribusinya.
"Beliau adalah bagian daripada 36 awardee yang kami pantau sebenarnya. Sudah lama ya," bongkar Sudarto.
Kini, pengembalian dana beasiswa—yang diperkirakan bisa mencapai miliaran rupiah—masih dalam proses penghitungan, termasuk bunga yang melekat pada dana negara tersebut. (lz)
Editor : Laila Zakiya