SOLOBALAPAN.COM – Situasi banjir di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, semakin kritis.
Hingga Senin malam (16/2/2026), tercatat sebanyak 9.000 kepala keluarga (KK) harus meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pergeseran debit air dari wilayah hulu ke hilir menjadi penyebab utama meluasnya genangan di permukiman warga.
Penyebab dan Pemicu Utama
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh hujan intensitas tinggi pada Minggu malam (15/2/2026).
”Selain curah hujan lokal, banjir juga dipicu kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, serta Sungai Lusi yang menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air dan meluap ke permukiman warga,” ungkap dia, dikutip dari JawaPos.com, Selasa (17/2/2026).
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 42 desa di sepuluh kecamatan yang terdampak banjir. Petugas juga melaporkan satu rumah rusak berat.
Selain itu, terdapat sejumlah titik tanggul jebol di Sungai Cabean, Sungai Jajar Baru, Sungai Jratun, serta dua titik tanggul Sungai Tuntang yang berada di Desa Tinanding, Kecamatan Godong.
Wilayah Terdampak di 10 Kecamatan
Sebanyak 42 desa di sepuluh kecamatan melaporkan dampak banjir. Berikut rangkuman kondisinya:
”Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Kedungjati, Tegowanu, Gubug, Purwodadi, Karangrayung, Geyer, Toroh, Pulokulon, Penawangan, dan Godong. Di Kecamatan Kedungjati, banjir yang sebelumnya menggenangi tujuh desa seperti Klitikan, Kedungjati, Wates, Jumo, Deras, Kalimaro, dan Padas dengan ketinggian 20-40 sentimeter saat ini telah surut,” jelasnya.
Sementara di Kecamatan Tegowanu, Desa Tajemsari tercatat 171 kepala keluarga terdampak dan masih tergenang, di Desa Sukorejo 600 kepala keluarga dan Kebonagung 526 kepala keluarga serta 102 hektare sawah berangsur surut.
Di Kecamatan Purwodadi, genangan masih terjadi di Kelurahan Purwodadi berdampak pada 584 kepala keluarga, dan Kelurahan Kalongan berdampak pada 1.180 kepala keluarga dengan tinggi muka air sebelumnya mencapai sekitar 1 meter.
”Selanjutnya di Kecamatan Toroh sedikitnya 200 kepala keluarga terdampak di Desa Tambirejo, serta ratusan kepala keluarga lainnya di Desa Katong, Sugihan, Depok, Boloh, Tunggak, dan desa lain, dengan kondisi sebagian besar telah surut,” ungkap Abdul Muhari.
Lokasi lain yang juga terdampak adalah Desa Tinanding, Kecamatan Godong, banjir masih menggenangi permukiman akibat jebolan tanggul Sungai Tuntang dengan ketinggian air 20–50 sentimeter.
Berdasar pemantauan tinggi muka air pada Senin sore, elevasi Sungai Lusi di Bendung Sedadi tercatat 26,26 mdpl dengan tren menurun, masih berada di bawah status siaga
Namun di Pos Menduran, tinggi muka air menunjukkan tren kenaikan dengan elevasi 10,08 meter dan debit 557,740 m kubik per detik.
Adapun di Bendung Klambu, elevasi hulu tercatat 16,33 mdpl dan debit 766,628 meter kubik per detik.
| Lokasi | Status/Elevasi | Tren |
| Pos Menduran | 10,08 Meter | Naik |
| Bendung Klambu | 16,33 mdpl | Waspada |
| Bendung Sedadi | 26,26 mdpl | Menurun |
Upaya Penanganan Darurat
BPBD Grobogan bersama TNI, Polri, dan relawan terus melakukan langkah intensif, seperti:
- Distribusi Logistik: Penyaluran makanan dan kasur lapangan di titik pengungsian utama.
- Peninggian Tanggul: Kerja bakti peninggian tanggul Sungai Tuntang di Desa Trisari dan Gubug untuk menahan laju air.
- Pemantauan Intensif: Pengawasan 24 jam pada titik-titik rawan jebol susulan.
Bagi warga di wilayah hilir, harap tetap waspada meski hujan di lokasi Anda sudah reda.
Perhatikan imbauan petugas dan segera amankan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi. Mari kita doakan agar air segera surut dan warga bisa kembali beraktivitas. (dam)
Editor : Damianus Bram