SOLOBALAPAN.COM – Cukup mengagetkan! Dalam satu bulan terakhir, wilayah Pacitan telah diguncang dua kali gempa bumi signifikan dengan magnitudo 5,5 dan 6,4.
Rentetan aktivitas tektonik ini memicu kekhawatiran warga akan ancaman gempa besar yang dikenal sebagai Megathrust.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengonfirmasi bahwa Pacitan memang berada di wilayah yang sangat rawan karena berhadapan langsung dengan zona Megathrust Jawa.
Daftar 8 Daerah Rawan Megathrust di Jawa Timur
Berdasarkan pemetaan BMKG dan catatan BPBD, potensi gempa besar ini tidak hanya mengancam Pacitan.
Setidaknya ada 7 daerah lain di pesisir selatan Jawa Timur yang masuk dalam zona rawan tumbukan lempeng, yakni:
- Pacitan
- Trenggalek
- Tulungagung
- Blitar
- Malang
- Lumajang
- Jember
- Banyuwangi
"Wilayah-wilayah tersebut berhadapan langsung dengan zona tumbukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Gempa di zona ini variasinya sangat luas, bisa bermagnitudo kecil, sedang, hingga besar di atas M 7," terang Daryono, dikutip dari JawaPos.com, pada Senin (9/2/2026).
Sejarah Kelam dan Karakteristik Geologi
Pacitan memiliki catatan sejarah tsunami yang cukup sering muncul dalam literatur historis, tepatnya pada tahun 1840 dan 1859.
Kondisi geografis Pacitan yang memiliki banyak teluk dan pantai sempit justru dapat memperkuat (amplifikasi) gelombang tsunami jika gempa besar terjadi.
Selain itu, letak Pacitan diduga berada di atas segmen slab landai yang menyebabkan koling subduksi di wilayah tersebut menjadi sangat kuat.
Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Meskipun gempa megathrust belum bisa diprediksi waktu pastinya, BMKG terus memantau pergerakan melalui jaringan pemantauan kegempaan nasional.
Sering kali, gempa besar akan didahului oleh rentetan gempa kecil (gempa pendahuluan).
BMKG mengimbau agar warga tidak terjebak dalam kepanikan yang berlebihan namun tetap memperkuat edukasi kebencanaan.
"Edukasi kesiapsiagaan sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di pesisir selatan Jatim agar tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi guncangan hebat," tutup Daryono. (dam)
Editor : Damianus Bram