SOLOBALAPAN.COM, BOGOR – Simpati publik yang mengalir deras kepada Sudrajat, penjual es gabus yang sempat viral karena difitnah menjual es berbahan spons, kini menyisakan cerita lain.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dibuat geleng-geleng kepala saat mengunjungi kediaman Suderajat di Kabupaten Bogor, Jumat (30/1/2026).
Maksud hati ingin melihat kondisi warganya yang terzalimi, Dedi justru menemukan fakta-fakta yang tidak sinkron antara pengakuan Suderajat dengan keterangan Ketua RW setempat.
Pria yang akrab disapa KDM itu bahkan sempat menegur Suderajat karena dianggap kurang bersyukur dan menutupi rezeki yang telah diterimanya.
Mengaku Masih 'Boro-boro', Padahal Bantuan Mengalir Deras
Momen ketegangan bermula saat Dedi Mulyadi menanyakan kondisi finansial Suderajat pasca-viral. "Pasti Babeh banyak duit sekarang," seloroh Dedi.
Namun, jawaban Suderajat justru di luar dugaan. "Boro-boro, sekarang masih nganggur," jawabnya singkat.
Mendengar hal itu, Ketua RW setempat langsung memotong dan membocorkan rincian bantuan yang sebenarnya telah diterima oleh warganya tersebut.
Ternyata, Suderajat telah menerima donasi dari berbagai pihak dengan nilai yang fantastis untuk ukuran pedagang keliling.
Berikut rincian bantuan yang diterima Suderajat menurut data Ketua RW:
-
Bidan Seruni: Rp 10 juta
-
TikTok Pundi Amal: Rp 25 juta
-
Owner (Donatur Pribadi): Rp 10 juta
-
Staf Kepresidenan: Rp 10 juta
-
Polsek Setempat: Rp 10 juta
-
Artis Malaysia: Hadiah paket Umrah
"Jangan dihilangin terus rezeki orang," tegur Ketua RW kepada Suderajat. Dedi Mulyadi pun menimpali, "Babeh gak boleh lagi ngomong gak ada duit. Itu berkah dari Allah, harus disyukuri."
Drama 'Ngontrak 19 Tahun' Terbantahkan
Tak hanya soal uang tunai, kejujuran Suderajat juga diuji terkait status tempat tinggalnya.
Kepada Dedi, Suderajat sempat bercerita pilu bahwa ia sudah 19 tahun hidup mengontrak dan hanya menerima warisan Rp 200 ribu dari orang tuanya.
Namun, lagi-lagi Ketua RW meluruskan fakta tersebut.
Suderajat ternyata tinggal di rumah milik sendiri yang merupakan pemberian almarhum orang tuanya seharga kisaran Rp 35-40 juta.
Selain itu, rumah tersebut juga sudah masuk dalam program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sejak tahun 2025.
"Lho Babe bilangnya ngontrak. Kok bohong sih? Babe berdosa sama orang tuanya. Orang tuanya sudah dikasih rumah tapi sama Babe (mengaku) nggak dikasih," sesal Dedi. Suderajat pun hanya bisa tertawa kecil dan meminta maaf.
Saran Banting Setir Jadi Juragan Kelontong
Melihat besarnya modal yang kini dimiliki Suderajat, Dedi Mulyadi menyarankan agar pria paruh baya tersebut tidak lagi berjualan es gabus keliling, apalagi mengingat trauma penganiayaan yang sempat dialaminya.
Dedi menghitung, dengan uang tunai yang tersimpan di bank dan bantuan renovasi rumah yang sedang berjalan, Suderajat sudah bisa naik kelas.
Dedi sendiri turut menyumbang biaya tukang sebesar Rp 20 juta untuk mempercepat renovasi rumah Suderajat agar layak huni dan bisa dijadikan tempat usaha.
"Itu uang kalau bener punya semangat usaha itu bisa maju dengan uang segitu, bukan orang miskin lagi. Kalau jualan modalnya Rp 50 juta itu bisa bikin toko, warung kelontong," saran Dedi menutup perbincangan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo