Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Trump Sebut Bakal 'Kuasai' Venezuela usai Delta Force Berhasil Sandera Nicholas Maduro, Warga Malah Happy?

Laila Zakiya • Senin, 5 Januari 2026 | 06:54 WIB

 

Foto yang dibagikan Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social pada 3 Januari 2026 menunjukkan sosok yang diklaim sebagai Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di kapal perang USS Iwo Jima.
Foto yang dibagikan Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social pada 3 Januari 2026 menunjukkan sosok yang diklaim sebagai Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di kapal perang USS Iwo Jima.

SOLOBALAPAN.COM - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, bukan hanya mengguncang peta geopolitik dunia, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: apakah intervensi ini benar-benar demi demokrasi, atau minyak Venezuela?

Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan niat Amerika Serikat untuk mengelola Venezuela pasca tumbangnya Maduro.

Pernyataan itu sontak memicu kecaman internasional, namun reaksi di tingkat akar rumput justru memperlihatkan wajah yang kontras: sebagian warga Venezuela tampak merayakan kejatuhan sang presiden.

Trump Terang-terangan Incar Minyak Venezuela

Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

Trump tak menutupi ambisinya untuk membuka keran investasi besar-besaran di sektor energi negara tersebut.

“We’re going to have our very large United States oil companies — the biggest anywhere in the world — go in, spend billions of dollars, fix the badly broken infrastructure, the oil infrastructure,”.

[“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” kata Trump dalam konferensi pers dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida.]

Meski begitu, embargo minyak Venezuela disebut masih tetap berlaku.

Kondisi ini membuat pasar global bereaksi hati-hati. Harga minyak mentah AS dan Brent tercatat melemah di awal perdagangan Asia, mencerminkan ketidakpastian atas masa depan produksi Venezuela.

Trump bahkan menyatakan Amerika Serikat akan “run” Venezuela untuk sementara waktu, sebuah klaim yang langsung menuai penolakan dari banyak negara Amerika Latin.

Dunia Mengecam, Amerika Latin Waspada

Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari berbagai negara.

Pemerintah Spanyol, Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, dan Uruguay menyebut langkah AS sebagai preseden berbahaya bagi keamanan regional.

Sementara itu, Paus Leo, Paus pertama asal Amerika Serikat, menyerukan agar Venezuela tetap menjadi negara merdeka dan menegaskan:

“The good of the beloved Venezuelan people must prevail over any other consideration.”

[“Kebaikan rakyat Venezuela tercinta harus diutamakan di atas pertimbangan lainnya.”]

Di dalam negeri Venezuela sendiri, Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López mengecam penangkapan Maduro sebagai penculikan dan menyatakan militer mendukung Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai pemimpin sementara.

Maduro Ditahan di Penjara Federal New York

Setelah ditangkap di Caracas, Maduro langsung diterbangkan ke Amerika Serikat dan kini mendekam di fasilitas penahanan federal dengan pengamanan tinggi.

Ia didakwa atas kasus narkotika dan senjata, tuduhan yang selama ini selalu dibantah oleh Maduro.

“Maduro was indicted in New York on drugs and weapons charges shortly after he landed at Stewart Air National Guard Base. He has previously denied being the leader of a drug cartel”

[“Maduro didakwa di New York atas tuduhan narkoba dan senjata tak lama setelah ia mendarat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart. Sebelumnya ia membantah menjadi pemimpin kartel narkoba.”]

Trump bahkan mengunggah foto Maduro dalam kondisi dibutakan di atas kapal perang AS, sembari kembali menegaskan rencana penguasaan Venezuela.

Ancaman Trump ke Pemimpin Sementara Venezuela

Trump juga melontarkan ancaman langsung kepada Delcy Rodríguez, yang kini menjabat sebagai presiden sementara.

“if she doesn’t do what’s right, she is going to pay a very big price.”

[“Jika dia tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal.”]

Pernyataan ini memicu kekhawatiran bahwa intervensi AS belum akan berakhir, bahkan membuka peluang pengerahan pasukan darat.

Di Tengah Kecaman Dunia, Warga Justru Berpesta

Di luar dugaan, euforia justru terlihat di kalangan diaspora Venezuela.

Di Panama City dan sejumlah kota di Amerika Latin, warga Venezuela turun ke jalan membawa bendera dan merayakan penangkapan Maduro.

Sorakan kegembiraan juga terdengar di Spanyol, tempat komunitas Venezuela berkumpul dengan perasaan lega dan harap akan perubahan.

Fenomena ini tak lepas dari krisis panjang yang memaksa 7,7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya sejak 2014, akibat kelangkaan pangan dan runtuhnya ekonomi.

Namun di dalam Venezuela sendiri, suasana jauh dari kata pasti. Warga Caracas menggambarkan ketakutan dan kebingungan saat serangan berlangsung.

“I looked out the window and saw many lights flashing, and these lights fell right on a neighborhood across the street, where there are some antennas, and caused a huge explosion. Obviously, there were many civilians in that neighborhood, and the power went out immediately,”

“When I saw the explosions and heard the screams, I thought, ‘They’re invading us!’”

“Venezuela has never been a country at war, and obviously we’re very surprised, nervous, and obviously a little afraid of what might happen in the coming hours and days,”

[“Saya melihat ke luar jendela dan melihat banyak lampu berkedip, dan lampu-lampu itu jatuh tepat di lingkungan di seberang jalan, tempat beberapa antena berada, dan menyebabkan ledakan besar. Jelas, ada banyak warga sipil di lingkungan itu, dan listrik langsung padam,”

“Ketika saya melihat ledakan dan mendengar teriakan, saya berpikir, ‘Mereka menyerang kita!’”

“Venezuela tidak pernah menjadi negara yang berperang, dan jelas kami sangat terkejut, gugup, dan sedikit takut akan apa yang mungkin terjadi dalam beberapa jam dan hari mendatang,”]

Baca Juga: Trump Pamer Potret Terkini Nicholas Maduro yang Disandera Tim Delta Force Sejak Sabtu Pagi, Sebut Bakal Monopoli Minyak di Venezuela?

Demokrasi Baru atau Babak Baru Intervensi?

Dengan Maduro kini ditahan di penjara federal Brooklyn, Venezuela memasuki fase paling rapuh dalam sejarah modernnya.

Mahkamah Agung Venezuela telah memerintahkan Delcy Rodríguez mengambil alih kekuasaan sementara:

“assume and exercise, as acting president, all the powers, duties, and faculties inherent to the office of president of the Bolivarian Republic of Venezuela, in order to guarantee administrative continuity and the comprehensive defense of the nation,”

[“mengemban dan menjalankan, sebagai penjabat presiden, semua kekuasaan, tugas, dan wewenang yang melekat pada jabatan presiden Republik Bolivarian Venezuela, untuk menjamin kesinambungan administrasi dan pertahanan negara secara menyeluruh,”]

Namun pertanyaan besar masih menggantung: apakah ini awal kebangkitan Venezuela, atau justru awal dominasi asing atas negeri dengan cadangan minyak terbesar di dunia?

Di tengah klaim Trump soal transisi aman, dunia kini menunggu—apakah warga Venezuela benar-benar akan merdeka, atau hanya berpindah dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#Delta Force #donald trump #as #venezuela