Roti O Evaluasi SOP Usai Diamuk Netizen, Buntut Kasus Penolakan Pembayaran Tunai di Gerai Halte Transjakarta
Didi Agung Eko Purnomo• Senin, 22 Desember 2025 - 04:33 WIB
Video nenek ditolak beli roti di Roti
SOLOBALAPAN.COM – Jagat media sosial TikTok baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah video yang memperlihatkan perdebatan panas di salah satu gerai roti ternama, Roti O.
Video tersebut memantik emosi warganet karena memperlihatkan seorang lansia (nenek) yang ditolak saat hendak membayar menggunakan uang tunai (cash).
Setelah viral dan menuai banyak kecaman, pihak manajemen Roti O akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf resmi pada Minggu (21/12/2025).
Kronologi: "Nenek Begini Mana Punya QRIS?"
Peristiwa ini bermula dari unggahan akun TikTok @arlius_zebua.
Dalam video tersebut, Arlius merekam momen saat pegawai Roti O di kawasan Halte Transjakarta Monas menolak pembayaran tunai dari seorang nenek.
Arlius yang berada di lokasi merasa geram.
Ia menilai kebijakan "wajib QRIS" tersebut sangat tidak masuk akal dan menyulitkan kaum lansia yang tidak melek teknologi.
"Lucu, (kok) harus QRIS. Nenek yang seperti ini nggak ada QRIS-nya gimana? Ini perlu diperhatikan," protes Arlius dalam videonya.
Ia bahkan melayangkan surat terbuka, menyatakan keberatannya atas SOP yang dinilai diskriminatif terhadap pemilik uang tunai yang sah.
Klarifikasi Roti O: Demi Diskon dan Kemudahan
Menanggapi kegaduhan tersebut, manajemen Roti O melalui akun Instagram resminya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Mereka menjelaskan alasan di balik penerapan sistem pembayaran non-tunai tersebut.
"Penggunaan aplikasi dan transaksi non-tunai di outlet kami bertujuan untuk memberikan kemudahan serta memberikan berbagai promo dan potongan harga bagi pelanggan setia kami," tulis pihak manajemen.
Meski demikian, Roti O berjanji akan menjadikan insiden ini sebagai pelajaran berharga.
"Saat ini kami sudah melakukan evaluasi internal agar ke depannya tim kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik," imbuhnya.
Perdebatan Netizen: Cashless vs Inklusivitas
Kasus ini memicu diskusi luas mengenai penerapan cashless society.
Meski praktis, banyak netizen sepakat bahwa uang tunai (Rupiah) adalah alat pembayaran yang sah dan seharusnya tidak boleh ditolak, terutama bagi fasilitas publik atau toko yang melayani berbagai lapisan masyarakat, termasuk lansia yang gagap teknologi. (did)