Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Sama-sama Klaim Jadi Pakubuwono XIV, Ini Kronologi Gegernya KGPH Purbaya dan KGPH Hangabehi

Laila Zakiya • Jumat, 14 November 2025 - 21:37 WIB
KGPH Hangabehi menobatkan diri sebagai Pakoe Boewono XIV (PB XIV).
KGPH Hangabehi menobatkan diri sebagai Pakoe Boewono XIV (PB XIV).

SOLOBALAPAN.COM - Keraton Kasunanan Surakarta kembali menjadi sorotan nasional.

Bukan karena hajatan adat atau kirab budaya—melainkan karena drama suksesi yang memecah keluarga besar dan menciptakan dua raja dalam satu keraton.

Dua putra mendiang Pakubuwono XIII kini sama-sama menyandang gelar yang sama: Pakubuwono XIV.

Di satu kubu ada KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Purbaya, sang putra mahkota sekaligus putra bungsu.

Di kubu lain, ada KGPH Hangabehi, putra tertua PB XIII yang didukung Lembaga Dewan Adat (LDA).

Duel legitimasi ini bukan terjadi dalam semalam. Ada rentetan peristiwa yang membuat suasana Keraton Solo memanas hanya beberapa hari setelah PB XIII mangkat. Berikut kronologi lengkapnya.

2 November 2025 — PB XIII Mangkat, Babak Baru Suksesi Dimulai

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII wafat pada Minggu pagi di usia 77 tahun.

Semasa hidup, beliau menikah tiga kali dan memiliki tujuh anak—dua laki-laki dan lima perempuan.

Pada Februari 2022, PB XIII mengangkat permaisurinya, GKR Pakubuwana, sekaligus menetapkan putra bungsu, Hamangkunegoro, sebagai putra mahkota.

Status ini menjadi fondasi klaim utama Purbaya sebagai penerus takhta yang sah.

5 November 2025 — Hamangkunegoro Nyatakan Ikrar Jadi PB XIV

Hari berkabung keluarga justru menjadi titik awal deklarasi.

Pada Rabu (5/11/2025), saat prosesi pemberangkatan jenazah PB XIII menuju Imogiri, Hamangkunegoro menyatakan dirinya siap dinobatkan sebagai PB XIV.

Dukungan datang dari kakaknya, GKR Timoer Rumbai, yang menyebut penetapan tersebut sebagai amanat sang ayah.

Namun tak semua kerabat satu suara.

5 November 2025 — Tedjowulan Bantah Klaim Purbaya

Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan, menegaskan belum ada penunjukkan resmi calon raja baru.

Ia mengaku, sesuai SK Kemendagri 2017, dirinya menjadi pelaksana tugas raja sampai suksesi ditetapkan lewat musyawarah keluarga.

Sikap ini membuat proses suksesi semakin mengambang, memicu ketegangan antara pendukung Purbaya dan kubu yang memilih menunggu rembuk keluarga besar.

12 November 2025 — Undangan Jumenengan Purbaya Beredar

Gelombang baru muncul ketika undangan resmi Jumenengan Dalem Purbaya sebagai PB XIV beredar. Penobatan dijadwalkan pada 15 November 2025.

Bahkan akun Instagram resmi keraton turut mengunggah agenda acara, lengkap dengan lokasi dan kirab agung.

Namun, langkah ini memicu reaksi keras dari kubu LDA dan sebagian kerabat yang merasa proses suksesi belum tuntas.

12 November 2025 — Penolakan dari Kerabat dan LDA

Beberapa kerabat, termasuk GKR Wandansari (Gusti Moeng), menyatakan penolakan.

Mereka menilai penobatan itu terlalu terburu-buru dan belum melalui musyawarah keluarga besar.

Pihak Tedjowulan juga mengaku tak mengetahui undangan itu secara resmi.

Situasi semakin panas. Dan sehari setelahnya, ketegangan memuncak dengan munculnya penobatan tandingan.

13 November 2025 — KGPH Hangabehi Dinobatkan Jadi PB XIV Versi LDA

Dalam rembug keluarga di Sasana Handrawina, KGPH Hangabehi—putra tertua PB XIII dari istri kedua, KRAy Winari Sri Haryani—ditetapkan sebagai PB XIV oleh LDA dan sejumlah sentono.

Penetapan ini dilakukan di hadapan putra-putri PB XII dan PB XIII serta Maha Menteri Tedjowulan.

Gusti Moeng menegaskan alasan mereka: prinsip adat Jawa yang mengutamakan urut tuwa, yakni pewaris laki-laki tertua.

Hangabehi hadir mengenakan busana kebesaran dan melakukan sungkem sebagai bagian dari prosesi penobatan.

Dua Raja Dua Kubu: Kenapa Kisruh Ini Terjadi?

Gegernya suksesi Keraton Solo bersumber pada dua legitimasi berbeda:

1. Legitimasi Purbaya (putra bungsu–putra mahkota)

* Ditunjuk langsung PB XIII pada 2022.
* Didukung permaisuri dan sebagian besar keluarga inti.
* Penetapan sebelumnya disaksikan pejabat negara.

2. Legitimasi Hangabehi (putra tertua–urut tuwa)

* Didukung LDA yang mengacu pada adat Jawa lama: pewaris tertua adalah yang paling utama.
* Penobatan dilakukan melalui rembug keluarga versi LDA.

Dua jalur legitimasi inilah yang membuat Keraton Solo kini memiliki dua raja sekaligus.

15 November 2025 — Jumenengan Purbaya Tetap Berjalan

Meski Hangabehi sudah dinobatkan dua hari sebelumnya, keluarga pendukung Purbaya menegaskan jumenengan tetap digelar sesuai jadwal.

GKR Timoer menyebut langkah Hangabehi sebagai bentuk pengkhianatan, sementara pendukung Purbaya menilai penobatan versi LDA cacat hukum dan adat.

Arah Konflik: Siapa PB XIV yang Sah?

Dari proses hingga pendukung, kedua kubu memiliki klaim kuat. Namun hingga kini, pemerintah pusat belum mengambil sikap final.

Keraton Solo pun praktis memiliki dua calon raja:

* PB XIV Gusti Purbaya, versi keluarga inti dan putra mahkota.
* PB XIV Hangabehi, versi Lembaga Dewan Adat dan sebagian sentono.

Publik kini menantikan peran pemerintah dan Kementerian Kebudayaan—sebab sejarah Keraton Surakarta sedang menulis babak paling panasnya dalam dua dekade terakhir. (lz)

Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya. (Mifta/Radar Bali)
Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya. (Mifta/Radar Bali)
Editor : Laila Zakiya
#viral #kronologi #Pakubuwono XIV #keraton solo #KGPH Hangabehi #KGPH Purbaya