Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kenapa Beberapa Hari Terakhir Matahari Terasa Lebih Menyengat? Begini Ternyata Penjelasannya

Laila Zakiya • Selasa, 14 Oktober 2025 | 20:47 WIB

 

Ilustrasi matahari - Kenapa belakangan matahari terasa begitu terik dan panas?
Ilustrasi matahari - Kenapa belakangan matahari terasa begitu terik dan panas?

SOLOBALAPAN.COM - Beberapa hari terakhir, masyarakat di berbagai daerah Indonesia ramai mengeluhkan panas terik yang tak biasa.

Padahal, bulan Oktober umumnya sudah memasuki awal musim hujan.

Namun tahun ini terasa berbeda—udara kering, sengatan matahari begitu menusuk, dan suhu siang hari terasa jauh lebih tinggi dari biasanya.

Keluhan Warganet: “Berasa Ada 10 Matahari di Bekasi!”

Salah satu keluhan viral datang dari unggahan akun Twitter @tanyarlfes pada 14 Oktober 2025:

“Guys kalian merasa gak hari ini panas banget. Jam 6 keluar motoran kaget banget kayak udah jam 9? Sampai silau karena berhadapan dengan matahari. Ini buminya berputar kecepetan atau jam sender yang terlambat ya?”

Cuitan itu mendapat ribuan respons. Banyak pengguna lain ikut mengeluh merasakan hal serupa di berbagai kota:

“Bener banget, ini kemarin di Bekasi jam 10-an udah secerah ini. Puanasnya edan berasa ada 10 matahari,” ujar akun @ziolicius.

“Belum ada jam 6 udah seterang ini,” tulis akun @coklatpaanaas.

“Semarang 32 tapi serasa 40 anjrit,” ungkap @serbaserbiikuu.

Keluhan-keluhan ini mengundang pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi pada cuaca akhir-akhir ini?

Fenomena Kulminasi Matahari: Hari Tanpa Bayangan

Ternyata, panas terik ini bukan tanpa sebab. Fenomena alam yang tengah terjadi disebut Kulminasi Matahari.

Dikutip dari akun @zakiaberkata (14 Oktober 2025), kulminasi matahari adalah saat matahari mencapai titik tertinggi di langit dan berada tepat di atas kepala pengamat—titik yang disebut zenith.

Fenomena ini sering juga dikenal sebagai “hari tanpa bayangan.”

Di mana Kulminasi Matahari sudah dimulai dari Indonesia bagian utara sejak 9 September 2025. Periode kulminasi matahari tersebut akan berakhir di bagian selatan Indonesia pada 18 Oktober 2025 mendatang.

Selama periode itu, radiasi matahari mencapai permukaan bumi dengan intensitas maksimum, membuat suhu udara meningkat terutama di siang hari.

Inilah sebabnya mengapa udara terasa begitu panas dan menyengat.

Setelah melewati titik zenith di khatulistiwa Indonesia, matahari akan bergerak ke arah selatan menuju Samudera Hindia dan mulai menghangatkannya.

Biasanya, puncak suhu tertinggi di Indonesia terjadi pada Oktober hingga November.

Selain itu, fenomena kulminasi ini juga mempengaruhi pergeseran sabuk hujan (ITCZ) serta dinamika monsun, yang menandai datangnya musim pancaroba—masa peralihan menuju musim hujan.

 

BMKG melalui laman resminya juga mencatat bahwa pada tahun 2025, kulminasi utama di Indonesia berlangsung dua kali, yaitu 20 Februari–4 April dan 7 September–21 Oktober 2025, tergantung lokasi lintang masing-masing kota.

Kesimpulan: Fenomena Alami, Bukan Bumi yang ‘Keburu Siang’

Jadi, bila belakangan ini kamu merasa matahari “lebih menyengat dari biasanya,” itu bukan karena Bumi berputar lebih cepat seperti kelakar warganet di media sosial.

Fenomena Kulminasi Matahari inilah penyebab utamanya—kejadian rutin yang menandai peralihan musim di wilayah tropis seperti Indonesia.

Meski panas ini bersifat sementara, penting untuk melindungi diri dari paparan langsung, terutama saat tengah hari.

Gunakan tabir surya, topi, dan cukup minum air putih, agar tubuh tetap terjaga di tengah sengatan matahari yang lebih intens dari biasanya. (**)

Editor : Laila Zakiya
#viral #panas #kulminasi matahari