SOLOBALAPAN.COM - Kabar duka menyelimuti dunia perbankan Indonesia.
Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Muhammad Ilham Pradipta, ditemukan meninggal dunia di Desa Cilangkara, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (21/8/2025).
Kematiannya yang tragis menjadi sorotan nasional setelah diketahui bahwa ia merupakan korban penculikan dan pembunuhan.
Polisi bergerak cepat dan telah menangkap empat dari lima terduga pelaku. Kini, profil dan rekam jejak Ilham sebagai seorang bankir yang berdedikasi tinggi ramai dikenang.
Kronologi Penculikan dan Pembunuhan
Peristiwa tragis ini bermula pada Rabu (20/8), ketika Ilham dilaporkan diculik saat sedang menghadiri sebuah rapat di kawasan Lotte Grosir Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Momen penculikan tersebut sempat terekam oleh kamera CCTV.
Keesokan harinya, pria berusia 37 tahun ini ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di sebuah lokasi di Kabupaten Bekasi, mengonfirmasi dugaan terburuk bahwa ia menjadi korban kejahatan keji.
Jejak Karier: 13 Tahun Mengabdi di BRI
Muhammad Ilham Pradipta dikenal sebagai sosok pimpinan muda yang energik dan profesional. Ia mengawali kariernya di Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada Januari 2012.
Selama lebih dari 13 tahun pengabdiannya, ia menunjukkan komitmen yang tinggi hingga akhirnya dipercaya untuk memegang posisi strategis sebagai Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih.
Pihak BRI mengenang almarhum sebagai teladan bagi pegawai lainnya.
“Almarhum adalah sosok yang profesional, berdedikasi, dan selalu menempatkan kepentingan nasabah serta institusi di atas segalanya,” ungkap pernyataan resmi dari BRI.
Penyelidikan Polisi dan Perburuan Pelaku
Pihak kepolisian telah berhasil menangkap empat orang terduga pelaku yang terlibat dalam penculikan dan pembunuhan ini.
Saat ini, polisi masih terus melakukan pengejaran terhadap satu pelaku lainnya.
Motif di balik kejahatan sadis ini masih terus didalami oleh tim penyidik, sementara proses hukum terhadap para pelaku yang telah ditangkap akan terus berlanjut.
Duka Mendalam dari Keluarga dan Rekan Kerja
Kepergian Muhammad Ilham Pradipta yang mendadak dan tragis meninggalkan duka yang sangat mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh rekan kerja di BRI dan masyarakat luas.
Kisahnya menjadi pengingat pahit akan risiko kejahatan yang bisa menimpa siapa saja, bahkan seorang profesional yang tengah menjalankan tugasnya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo