SOLOBALAPAN.COM – Di tengah ramainya tren S-Line atau garis merah yang berasal dari drama Korea dengan judul yang sama, S-Line.
Sebuah kisah kuno dari Negeri Tirai Bambu tentang cinta dan takdir masih memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang, yaitu Teori Benang Merah atau yang lebih dikenal dengan Red String Theory.
Bayangkan saja jika kamu terikat oleh sebuah benang merah tak kasat mata yang menghubungkan kamu dengan seseorang, dan kalian ditakdirkan untuk bersama tak peduli seberapa lama waktu telah berlalu.
Apa itu Teori Benang Merah?
Teori Benang Merah merujuk pada sebuah konsep yang berasal dari mitologi Tiongkok.
Menurut legenda, benang ini dikendalikan oleh dewa pernikahan yang dikenal dengan Yuè Lǎo ( 老) yang menghubungkan dua individu untuk bertemu, berteman, atau bahkan jatuh cinta.
Benang merah ini tidak akan terputus, bahkan jika mengalami peregangan atau lilitan.
Ia akan terus terhubung. Meskipun mereka terpisah oleh jarak, waktu, maupun situasi, mereka akan terus kembali bersama pada saat yang tepat.
Benang Merah dari Sisi Budaya Lain
Konsep Teori Benang Merah tidak hanya populer di Tiongkok, tetapi juga bisa ditemukan dalam budaya negara tetangganya, yakni Jepang dan Korea.
Di Jepang terdapat konsep Akai Ito (赤い糸) yang menghubungkan takdir dua individu.
Sedangkan di Korea, Unmyeong-ui Sil (운명의 실) memiliki arti "benang takdir" dengan konsep yang hampir sama, menegaskan pada relasi antar manusia yang sudah ditakdirkan sejak dilahirkan.
Kisah Tentang Teori Benang Merah
Banyak kisah nyata dan fiksi yang bisa menjadi bukti kekuatan Teori Benang Merah.
Sebagai contoh kecil, kisah tentang pertemuan pasangan yang sudah terpisah selama bertahun-tahun lamanya, tetapi mereka bisa kembali bersama seolah-olah terdapat benang merah yang selalu menarik mereka untuk menemukan satu sama lain.
Kisah seperti ini akan selalu menumbuhkan harapan dan keyakinan bahwa cinta sejati tidak akan terganti.
Benang merah akan selalu ada untuk menghubungkan kita dengan orang-orang yang ditakdirkan untuk kita, bahkan ketika hidup membawa kita ke arah yang berbeda. (ag/lz)
Editor : Laila Zakiya