SOLOBALAPAN.COM - Sosok Mulyono, yang hadir sebagai teman kuliah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam reuni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980, mendadak viral.
Bukan karena kedekatannya dengan Jokowi, melainkan karena tuduhan mengejutkan yang menyebutnya sebagai seorang calo tiket bus di Terminal Tirtonadi Solo bernama asli Wakidi.
Tuduhan ini menyebar cepat di media sosial, namun kini telah dibantah dengan tegas oleh Mulyono dan rekan-rekan seangkatannya. Lantas, mana yang benar? Berikut adalah fakta-faktanya.
Tuduhan Viral dari Pengacara Solo
Tuduhan ini pertama kali dilontarkan oleh seorang pengacara asal Solo, Muhammad Taufiq, melalui kanal YouTube-nya pada Minggu (27/7/2025).
"Saya sudah investigasi, menghubungi pentolan Terminal Tirtonadi. Singkat kata, yang bersangkutan namanya Wakidi, bukan Mulyono. Dia itu calo tiket," ujar Taufiq dalam videonya.
Isu ini semakin diperkeruh oleh unggahan Buni Yani yang secara sarkastis menyebut Mulyono sebagai alumni "UTTS (Universitas Terminal Tirtonadi Solo)".
Bantahan Keras Mulyono dan Saksi Seangkatan
Menanggapi tuduhan tersebut, Mulyono dengan tegas membantah.
Ia memaparkan bahwa setelah lulus dari Fakultas Kehutanan UGM pada Februari 1987 (dengan NIM 1684), ia merantau dan bekerja sebagai profesional di bidang kehutanan di berbagai daerah seperti Mentawai, Maluku, dan Papua.
Klaim Mulyono diperkuat oleh rekan seangkatannya, Mustoha Iskandar, yang memastikan Mulyono adalah bagian dari angkatan 1980 dan menyebut tuduhan itu sebagai "setingan" yang tidak masuk akal.
Hasil Pengecekan di Terminal Tirtonadi
Dilansir dari Suara.com, Kader PSI, Dian Sandi Utama, yang mendampingi Mulyono saat memberikan klarifikasi, menambahkan bahwa pihak Terminal Tirtonadi mengaku tidak mengenali sosok Mulyono saat ditunjukkan fotonya, yang semakin melemahkan tuduhan tersebut.
Hingga kini, tidak ada bukti valid yang mendukung tuduhan bahwa Mulyono adalah calo bernama Wakidi.
Serangan yang Melebar ke Lingkaran Pertemanan
Tuduhan terhadap Mulyono, yang telah dibantah oleh banyak saksi, dinilai publik sebagai babak baru dari serangan politik yang menyasar riwayat hidup Jokowi.
Setelah ijazah sang mantan presiden yang terus dipersoalkan, kini lingkaran pertemanannya di masa lalu pun ikut terseret dalam pusaran disinformasi.
Kasus ini menjadi cerminan bagaimana narasi politik dapat melebar hingga menyentuh orang-orang biasa yang tidak memiliki sangkut paut dengan dunia kekuasaan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo