SOLOBALAPAN.COM - Jumat dini hari, 13 Juni 2025, dunia tersentak oleh serangan mendadak yang dilancarkan Israel ke Iran.
Serangan udara skala besar itu menyasar lebih dari 200 titik strategis, termasuk fasilitas nuklir bawah tanah di Natanz dan pabrik konversi uranium di Isfahan.
Israel Mengklaim "Operasi Pertahanan Diri"
Militer Israel menyatakan, serangan ini adalah tindakan pre-emptive untuk menghentikan ancaman eksistensial dari ambisi nuklir Iran.
Jet-jet tempur mereka juga menargetkan peluncur rudal dan sistem pertahanan udara di sekitar Teheran.
Namun yang paling mengejutkan: sejumlah jenderal dan ilmuwan senior Iran tewas dalam serangan ini. Di antaranya:
-
Mayjen Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata
-
Jenderal Hossein Salami, Panglima Tertinggi IRGC
-
Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Kepala Pasukan Kedirgantaraan IRGC
-
Komandan Quds, Esmail Qaani
-
Dua ilmuwan nuklir top: Fereydoon Abbasi-Davani dan Mohammad Mehdi Tehranchi
Menurut laporan duta besar Iran untuk PBB, 78 orang tewas dan lebih dari 300 terluka dalam gelombang pertama serangan.
Iran Membalas Tel Aviv dengan Rudal
Tak tinggal diam, Iran membalas dengan ratusan rudal dan drone yang diluncurkan ke wilayah Israel.
Sasaran utama adalah kompleks militer Kirya di Tel Aviv—yang dijuluki Pentagon-nya Israel.
Hasilnya:
-
Sembilan bangunan hancur
-
Ratusan apartemen rusak di Ramat Gan
-
Bandara Ben-Gurion ditutup total
-
Sedikitnya delapan orang Israel tewas, lebih dari 70 terluka, termasuk tujuh tentara
Militer Iran bahkan mengklaim berhasil menembak jatuh tiga jet F-35 Israel, meski belum dikonfirmasi independen.
Peringatan Perang Regional dan Krisis Energi
Israel juga menggempur ladang gas South Pars, menyebabkan kebakaran besar.
Sementara itu, serangan udara Israel juga menjalar ke Yaman, menargetkan pejabat senior Houthi.
Iran membalas lagi pada Sabtu malam, menargetkan Haifa, Tel Aviv, dan Tamra. Di Tamra, satu bangunan berlantai dua hancur, menewaskan satu wanita dan melukai 13 lainnya.
Perang Kata dan Ancaman Lebih Besar
-
Menhan Israel, Israel Katz: "Iran akan terbakar kalau terus membalas."
-
Ayatollah Khamenei: "Kami akan membawa Israel menuju kehancuran."
-
Presiden Israel, Isaac Herzog: “Pagi ini adalah salah satu pagi paling menyedihkan dalam sejarah kami.”
Sementara itu, Iran melalui Menlu Abbas Araqchi menegaskan bahwa negaranya tidak ingin memperluas konflik, kecuali situasi memaksa.
Konflik ini bukan lagi sekadar operasi militer terbatas. Dunia kini berada di ambang konflik regional penuh, dengan dua kekuatan besar saling mengoyak pertahanan satu sama lain. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo