SOLOBALAPAN.COM - Kompas TV, salah satu stasiun televisi swasta nasional yang dikenal luas di Indonesia, tengah menjadi sorotan publik.
Bukan karena prestasi jurnalistik atau tayangan andalannya, melainkan akibat kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mengejutkan banyak pihak.
Situasi yang juga dikenal dengan Layoff ini semakin menyita perhatian setelah video presenter senior Kompas TV, Gita Maharkesri, menangis saat siaran terakhirnya viral di media sosial.
Di tengah gejolak ini, publik pun mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya pemilik Kompas TV?
Kompas TV merupakan bagian dari Kompas Gramedia Group (KG Media), sebuah konglomerasi media ternama di Indonesia.
CEO yang memimpin grup besar ini adalah Lilik Oetama, putra dari salah satu pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama.
Lilik Oetama merupakan CEO Kompas Gramedia Group (KG Media) yang menaungi stasiun televisi Kompas TV.
Kompas Gramedia Group sendiri didirikan oleh dua tokoh pers terkenal di Indonesia, yaitu Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama.
Kompas Gramedia tidak hanya menaungi Kompas TV.
Grup ini memiliki portofolio bisnis yang luas mencakup media cetak seperti Harian Kompas, portal kanal berita kompas.com dan tribunnews.com, penerbitan buku melalui Penerbit Buku Kompas, jaringan toko buku Gramedia, layanan ekspedisi KG Express, hingga hotel-hotel berbintang melalui jaringan Santika.
Lilik Oetama melanjutkan warisan sang ayah, Jakob Oetama, yang dikenal sebagai tokoh pers dan pemimpin redaksi Harian Kompas sejak 1965 hingga 2000.
Bersama dengan PK Ojong, Jakob mendirikan Intisari dan Kompas, dua media yang berpengaruh dalam perkembangan jurnalistik Indonesia.
Ia juga pernah menjadi dosen komunikasi dan anggota DPR-MPR.
“Jakob Oetama menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kompas sejak berdiri tahun 1965 hingga tahun 2000. Sejak PK Ojong meninggal tahun 1980, Jakob Oetama merangkap menjadi Pemimpin Umum Kompas dan Kelompok Kompas-Gramedia.” tulis artikel Biografi Jakob Oetama.
Namun, di tengah warisan besar tersebut, Kompas TV kini menghadapi kenyataan pahit yang mencerminkan tantangan serius dalam dunia media masa kini.
Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal di Kompas TV jadi momen mengharukan di Hari Buruh.
Momen itu ketika Gita Maharkesri, salah satu presenter senior Kompas TV, tak kuasa menahan air mata saat membawakan siaran terakhirnya dalam program Kompas Sport Pagi.
Dalam siaran terakhirnya, Gita menyampaikan pesan emosional yang menyentuh banyak orang:
“Tak terasa inilah akhir perjalanan panjang Kompas Sport Pagi selama hampir 12 tahun. Kami hadir menemani Anda dengan berbagai macam berita olahraga, baik dari dalam maupun luar negeri, serta kabar inspiratif dari atlet kebanggaan Indonesia dan dunia.”
Restrukturisasi ini diambil sebagai langkah efisiensi perusahaan.
Kompas TV, seperti banyak media konvensional lainnya, menghadapi penurunan jumlah penonton akibat migrasi ke media digital seperti YouTube, TikTok, dan platform daring lainnya.
Penurunan ini ikut memukul pendapatan iklan yang selama ini menjadi andalan stasiun televisi.
Lebih lanjut, Kompas TV sebagai bagian dari imperium media Kompas Gramedia, memang telah lama menjadi pionir di industri. (lz)