SOLOBALAPAN.COM - Isu mengenai penyanyi Anggun C Sasmi yang dikaitkan dengan dukungan terhadap Zionis muncul setelah cuitan-cuitan lama di media sosial X kembali diunggah.
Anggun pun memberikan klarifikasi mengenai tudingan tersebut.
Pada akhir pekan, akun @zionistinmusic mengunggah cuitan lama milik Anggun yang berasal dari tahun 2015 dan 2016.
Cuitan tersebut menanggapi partisipasi Israel dalam ajang kompetisi Eurovision Song Contest.
Akun tersebut kemudian menuding Anggun sebagai pendukung Zionis. Namun, apakah benar Anggun C Sasmi mendukung Zionis?
Akun tersebut mengunggah kembali cuitan Anggun pada hari Sabtu, 22 Februari 2025, yang berisi komentarnya terkait kompetisi Eurovision Song Contest yang disiarkan secara langsung.
Eurovision, yang diikuti hampir 42 negara, merupakan salah satu ajang musik internasional besar yang turut melibatkan Israel sebagai peserta.
Dalam perannya saat itu, Anggun memberikan komentar tentang lagu-lagu dari banyak negara, termasuk Israel, melalui live tweet.
Tak hanya itu, akun yang sama juga memposting video Anggun ketika menjadi juri pada ajang yang sama di Prancis pada 2023.
Dalam acara tersebut, Anggun terlihat antusias memberikan poin kepada Israel. Tuduhan ini kemudian memicu kekhawatiran di kalangan netizen, yang mempertanyakan sikap politiknya.
Menanggapi tuduhan tersebut, Anggun memberikan klarifikasi yang disampaikan melalui akun Instagram pribadinya, @anggun_cipta.
Anggun menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki afiliasi dengan Zionisme dan tidak mendukung kebijakan politik Israel.
Anggun C Sasmi Mengklarifikasi Tuduhan
Dalam klarifikasinya, Anggun mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam politik dan hanya berpartisipasi dalam acara Eurovision Song Contest untuk konteks musik.
Ia menulis, "Berpartisipasi dalam acara sebesar Eurovision Song Contest dan melakukan live Tweet tentang acara tersebut dimana saya mengomentari lagu-lagu dan penyanyi dari banyak negara termasuk Israel, TIDAK MEMBUAT SAYA JADI PENDUKUNG POLITIK."
Ia juga menambahkan bahwa cuitan dan postingan yang beredar telah disalahartikan dan dimanipulasi untuk menjadikan dirinya sasaran kebencian.
"Saya berbicara dalam konteks musik, tapi postingan mereka jelas keluar dari konteks musik tersebut untuk membuat saya menjadi target kebencian.
Manipulasi fakta dan pencemaran nama baik ini akan dilaporkan berdasarkan UU ITE lewat anggota hukum," jelas Anggun lebih lanjut.
Lebih jauh, Anggun menegaskan komitmennya terhadap kemanusiaan dan perdamaian, serta menolak segala bentuk kekerasan.
"Di tengah konflik dunia, saya selalu menjunjung tinggi kemanusiaan. Saya tidak pernah mendukung politik Israel terhadap Palestina!" ungkapnya dengan tegas.
Sebagai tambahan, Anggun juga membagikan cuitan lama dari 2014 yang berisi doa untuk kedamaian di Timur Tengah, termasuk untuk korban yang meninggal di Gaza.
Cuitan tersebut semakin menegaskan sikapnya yang anti kekerasan dan tidak mendukung Zionisme.
Apa Itu Zionisme?
Zionisme, yang sering dikaitkan dengan kebijakan politik Israel terhadap Palestina, merujuk pada gerakan yang dimulai pada akhir abad ke-19 yang bertujuan untuk mendirikan negara bagi umat Yahudi di Palestina.
Gerakan ini kemudian menjadi dasar pembentukan negara Israel pada 1948.
Sayangnya, dalam perjalanan sejarahnya, kebijakan Zionisme ini sering kali dikritik karena menyebabkan penderitaan besar bagi warga Palestina melalui serangkaian konflik dan tindakan kekerasan.
Isu ini terus memicu kontroversi global, karena Zionisme dipandang oleh sebagian orang sebagai pembenaran atas pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyat Palestina.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang yang berbicara tentang Israel atau berpartisipasi dalam acara-acara internasional yang melibatkan negara tersebut dapat langsung disimpulkan mendukung kebijakan politiknya.
Klarifikasi yang disampaikan oleh Anggun C Sasmi jelas menunjukkan bahwa dirinya tidak terlibat dalam politik apapun dan hanya berkomentar dalam konteks acara musik internasional.
Sebagai publik figur, Anggun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian dunia, serta mendukung hak-hak semua orang tanpa terkecuali.
Klarifikasi ini juga mengingatkan kita pentingnya memeriksa konteks setiap pernyataan dan menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo