SOLOBALAPAN.COM - Nasib tragis dialami seorang siswa berinisial E di SMA Kristen Gloria 2 Surabaya, yang menjadi korban intimidasi pengusaha klub malam terkenal, Ivan Sugianto.
Alih-alih mendapatkan perlindungan setelah diintimidasi oleh Ivan Sugianto, E justru harus menerima sanksi skorsing dari pihak sekolahnya.
Kasus ini bermula ketika Ivan Sugianto, yang juga dikenal sebagai pemilik klub malam Valhalla di Surabaya, datang ke sekolah dan memaksa siswa E untuk bersujud dan menggonggong layaknya anjing.
Tindakan ini dilakukan Ivan sebagai bentuk kemarahan setelah anaknya disebut "poodle" oleh siswa tersebut.
Namun, menurut akun X @Oppsisi6890, intimidasi yang dilakukan Ivan terhadap siswa tersebut ternyata jauh lebih parah dari yang beredar di media sosial.
Beberapa korban lain yang tak terekspos publik menyampaikan pengakuan mengejutkan melalui pesan langsung.
"Ada yang diperas, ada yang disuruh jilat air ludahnya si Ivan," ungkap akun @Opposisi6890.
Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa korban Ivan bukan hanya E, tetapi juga melibatkan pemilik bisnis lainnya yang diduga diperas oleh Ivan.
Ironisnya, meski sudah menjadi korban intimidasi dan kekerasan psikis, E justru dikenai skorsing selama tiga hari oleh pihak sekolah.
Kebijakan ini menuai kecaman luas, termasuk dari aktivis Lex Wu.
Dalam sebuah unggahan di akun X @LexWu_13, Lex Wu membagikan surat pemberitahuan skorsing yang diterima oleh siswa tersebut.
Surat peringatan tersebut dikeluarkan pada Senin, 11 November 2024, dengan tuduhan bahwa E melanggar tata tertib sekolah karena memberikan julukan tidak pantas kepada siswa dari sekolah lain.
"Melanggar peraturan tata tertib sekolah yaitu memberikan sebutan yang tidak pantas," demikian bunyi surat tersebut.
E dijatuhi sanksi skorsing mulai Selasa, 12 November 2024, hingga Kamis, 14 November 2024, dan diharapkan masuk kembali pada Jumat, 15 November 2024.
Tindakan skorsing terhadap E dianggap tidak adil oleh banyak pihak, mengingat siswa tersebut sudah menjadi korban intimidasi yang menyebabkan trauma.
Netizen dan aktivis menyuarakan ketidakpuasan mereka atas keputusan SMAK Gloria 2 Surabaya yang seolah lebih fokus pada tata tertib sekolah ketimbang memberikan perlindungan kepada korban kekerasan psikis.
"Bagaimana bisa sekolah memberikan sanksi kepada korban yang jelas-jelas sudah dipermalukan di depan umum?"* kritik salah satu netizen di X.
Di sisi lain, pihak sekolah menyatakan bahwa mereka tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan dan saling menghargai antar siswa. Namun, keputusan ini dianggap hanya memperburuk situasi dan menambah beban bagi siswa yang sudah menjadi korban intimidasi. (lz)
Editor : Laila Zakiya