Tembiluk, Kuliner Unik Kalimantan yang Mirip Cacing tetapi Ternyata Kerabat Kerang

SOLOBALAPAN.COM-Sekilas, bentuknya mungkin membuat sebagian orang merasa geli. Tubuhnya panjang, berwarna putih pucat, dan memiliki tekstur berlendir menyerupai cacing. Namun, siapa sangka hewan yang dikenal dengan nama tembiluk ini justru menjadi salah satu kuliner tradisional masyarakat di Kalimantan Utara.
Tembiluk merupakan bahan pangan unik yang berasal dari kawasan perairan dan hutan mangrove. Meski sering disebut cacing kayu, hewan ini sebenarnya bukan termasuk kelompok cacing, melainkan moluska yang masih berkerabat dengan kerang. Keunikan bentuk, habitat, hingga cara mengonsumsinya menjadikan tembiluk sebagai salah satu kekayaan kuliner Nusantara yang menarik untuk dikenal.
Tembiluk dikenal sebagai hewan penggerek kayu atau shipworm. Salah satu jenis yang ditemukan di Indonesia memiliki nama ilmiah Bactronophorus thoracites dan termasuk dalam kelompok moluska bivalvia dari keluarga Teredinidae.
Baca Juga: Sate Lalat dari Daging Lalat? Kuliner Khas Madura yang Bikin Penasaran karena Namanya
Berbeda dengan kerang pada umumnya yang memiliki cangkang keras dan tubuh membulat, tembiluk mempunyai tubuh memanjang, lunak, serta berwarna putih pucat. Cangkangnya yang berukuran kecil berada di bagian depan tubuh dan digunakan untuk membantu menggerek kayu.
Hewan ini hidup di dalam batang kayu yang terendam air, terutama kayu lapuk di kawasan mangrove dan perairan payau. Tembiluk membuat lubang atau terowongan di dalam kayu sebagai tempat berlindung sekaligus memperoleh sumber makanan.
Menariknya, tembiluk memiliki kemampuan memanfaatkan selulosa dari kayu dengan bantuan mikroorganisme yang hidup di dalam tubuhnya. Kemampuan inilah yang membuatnya berbeda dari kebanyakan hewan laut lainnya.
Baca Juga: Namanya Bikin Penasaran! Kue Kentut, Jajanan Tradisional Khas Bangka dengan Rasa Manis dan Gurih
Menjadi Kuliner Tradisional Masyarakat Kalimantan Utara
Tembiluk telah dikenal sebagai bahan pangan tradisional masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Utara, khususnya masyarakat Tidung dan Dayak Bulusu. Di kawasan Sembakung dan Kabupaten Tana Tidung, hewan ini menjadi salah satu kuliner lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat setempat, tembiluk bukan sekadar makanan dengan bentuk yang tidak biasa. Keberadaannya juga berkaitan erat dengan lingkungan sungai dan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam di sekitarnya.
Salah satu daerah yang dikenal dengan kuliner tembiluk adalah Desa Seputuk, Kabupaten Tana Tidung. Bahkan, tembiluk diperkenalkan sebagai salah satu daya tarik kuliner di desa wisata tersebut.



