Kenapa Disebut Nasi Kucing? Ini Cerita di Balik Menu Ikonik Angkringan

SOLOBALAPAN.COM - Kalau pernah makan di angkringan, nasi kucing tentu bukan menu yang asing. Bungkusnya kecil dengan isian nasi dan lauk sederhana. Meski terlihat seperti nasi bungkus biasa, nama nasi kucing ternyata memiliki cerita yang berkaitan dengan ukuran porsinya dan lauk yang digunakan.
Istilah nasi kucing atau sego kucing banyak dikaitkan dengan porsinya yang sedikit. Jumlah nasi dalam satu bungkus dianggap mirip dengan porsi makanan yang diberikan kepada kucing. Ada pula cerita yang mengaitkan istilah tersebut dengan ikan bandeng yang menjadi salah satu lauk pada nasi kucing zaman dahulu dan dikenal sebagai makanan yang biasa diberikan kepada kucing.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Herbal Tradisional: Alasan Tanaman Asli Indonesia Ini Diburu Dunia Kesehatan
Nasi kucing pada awalnya tidak memiliki banyak pilihan isian. Nasi putih dalam jumlah kecil biasanya dipadukan dengan lauk sederhana seperti tempe atau ikan bandeng. Sambal kemudian ditambahkan sebagai pelengkap sebelum nasi dibungkus menggunakan daun pisang.
Ukuran tersebut membuat nasi kucing berbeda dari nasi bungkus pada umumnya. Satu bungkus tidak ditujukan sebagai makanan dalam porsi besar. Jika masih lapar, pembeli dapat mengambil beberapa bungkus sekaligus atau menambah lauk lain yang tersedia di angkringan.
Keberadaan nasi kucing sendiri tidak bisa dilepaskan dari perkembangan angkringan. Tempat makan sederhana ini berkembang di Solo dan Yogyakarta dengan berbagai makanan yang dijual menggunakan pikulan. Sebelum nasi kucing dikenal luas, pedagang juga menawarkan makanan seperti terikan, jadah bakar, singkong, dan jajanan tradisional lainnya.
Perkembangan angkringan di Solo turut dikaitkan dengan pedagang dari wilayah Klaten yang merantau dan membawa tradisi berjualan menggunakan pikulan. Cara berjualan tersebut kemudian berkembang dan dikenal di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta.
Seiring waktu, nasi kucing ikut mengalami perubahan. Lauk yang digunakan tidak lagi terbatas pada tempe atau ikan. Pembeli kini dapat menemukan nasi kucing dengan sambal teri, ayam suwir, cumi asin, peda, serta berbagai olahan lainnya.
Gorengan dan sate juga sering disediakan sebagai pelengkap. Ada sate usus, sate telur puyuh, hingga tahu dan tempe bacem. Pembeli bisa memilih sendiri lauk tambahan sesuai dengan selera dan jumlah makanan yang ingin disantap.
Variasi nasi bungkus di angkringan juga tidak berhenti pada nasi kucing. Salah satunya adalah sego macan, yang memiliki ukuran lebih besar. Porsinya disebut dapat mencapai sekitar tiga kali nasi kucing, dengan isian berupa nasi, ikan, dan sayuran. Di beberapa tempat, menu ini juga dibuat dalam bentuk nasi bakar.
Perbedaan ukuran tersebut menunjukkan bagaimana menu di angkringan berkembang mengikuti kebutuhan pembeli. Nasi kucing tetap dipertahankan dalam ukuran kecil, sedangkan sego macan hadir sebagai pilihan bagi mereka yang menginginkan porsi lebih banyak.



