SOLOBALAPAN.COM - Ketika masuk kawasan Alun-alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta, dua gerbong kereta klasik yang menawan menyambut pengunjung.
Perlu diketahui, gerbong-gerbong itu membawa cerita menarik dari masa lalu Keraton Kasunanan Surakarta.
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, di Alun-alun sebelah timur, terdapat gerbong dari rangkaian kereta pesiar milik raja paling lama memerintah, Pakubuwono X.
Di sebelah barat, sebuah gerbong unik berfungsi untuk mengantarkan sang raja ke peristirahatan terakhirnya.
Kedua gerbong ini bukan sekadar artefak, melainkan peninggalan sejarah dengan kaitan erat pada pemerintahan Pakubuwono X.
Meskipun sebelah timur adalah gerbong pesiar, yang sebelah barat berfungsi sebagai kereta jenazah.
Keunikan terletak pada persiapan yang dilakukan oleh Pakubuwono X sendiri sejak tahun 1909-1920.
Rangkaian ini dibuat oleh perusahaan Belanda, Werspoor, yang juga membuat kereta pesiar, dan tiba di Hindia Belanda pada tahun 1915.
Menariknya, kendati ditujukan sebagai kereta jenazah, Pakubuwono X merancangnya dengan seksama.
Kereta ini hanya digunakan sekali pada tahun 1939, mengantar jenazahnya dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Tugu Jogja.
Setelah itu pengantaran jenazah Pakubuwono X dilanjutkan dengan kereta kuda menuju Makam Raja-raja di Imogiri.
Seiring berjalannya waktu, kereta ini lama diletakkan di Balai Yasa Yogyakarta pada tahun 1989 sebelum kembali ke Kota Solo.
Kini, berdiri gagah di Alun-alun Selatan, gerbong ini bukan sekadar objek wisata, melainkan ikon yang merangkum sejarah dan keunikan Kota Solo.
Keputusan meletakkan kereta jenazah Pakubuwono X di sebelah barat bukan sembarangan.
Keputusan itu diketahui mengandung filosofi mendalam tentang matahari terbenam yang mencerminkan berakhirnya kehidupan, sesuai dengan fungsi awalnya.
Gerbong kereta peninggalan Pakubuwono X bukan hanya antik, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah.
Ceritanya, yang melewati zaman dan perbaikan juga perlu dijaga sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya.
Menelusuri keunikan dan keindahannya, kita tak hanya melihat artefak, tapi juga menyentuh sejarah yang tak boleh terlupakan. (mg5/rei)