Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Pasar Kliwon, Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal Orang Arab di Solo

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 3 Januari 2024 | 23:31 WIB
Potret  Pasar Kliwon tempo dulu  (dok KITLV 1880)
Potret Pasar Kliwon tempo dulu (dok KITLV 1880)

SOLOBALAPAN.COM - Pasar Kliwon saat ini menjadi bagian dari Kota Solo yang memiliki sejarah panjang dan menggambarkan kehidupan masyarakat Arab pada masa penjajahan Belanda.

Awalnya, pasar ini dikenal sebagai tempat penjualan kambing pada hari pasaran Kliwon.

Pasar ini kemudian menjadi ciri khas Kampung Arab yang merupakan tempat tinggal khusus bagi orang-orang Arab pada zaman kolonial.

Dilansir dari website resmi Pemerintah Kota Surakarta, pada masa penjajahan Belanda, kebijakan wijken stelsel menempatkan orang Arab sebagai penduduk Timur Asing di masyarakat kolonial.

Mereka diwajibkan tinggal di suatu tempat khusus yang dipimpin oleh seorang kapiten.

Hal ini memiliki tujuan untuk memudahkan pemerintah Belanda mengawasi mereka, karena khawatir akan pengaruh Islam dan keturunan Arab.

Salah satu landmark penting di Pasar Kliwon adalah Rumah Sakit Kustati.

Tanah untuk rumah sakit ini diberikan sebagai hadiah dari Paku Buwana X kepada seorang keturunan Arab yang pernah menjadi guru mengaji dan menyembuhkan sakit putri Sunan yang bernama Kustati.

Nama rumah sakit ini mengenang jasa Sunan, terutama putrinya yang sembuh dari sakit.

Di wilayah Pasar Kliwon juga terdapat sumber mata air bernama Kedhung Pengantin.

Sumber air ini memiliki peran penting dalam upacara perkawinan penduduk Surakarta.

Air dari Kedhung Pengantin digunakan sebagai syarat kelengkapan upacara pernikahan, menambah kekayaan budaya dan tradisi di kawasan ini.

Pasar Kliwon sendiri bukan hanya menjadi nama pasar, tetapi juga memberikan identitas pada kecamatan yang meliputi beberapa kelurahan.

Beberapa kelurahan yang dinaungi Kecamatan Pasar Kliwon ini adalah Bathangan, Pasar Kliwon, Kedunglumbu, Semanggi, Gajahan, Kauman, Jayasuran, Sangkrah, Lojiwetan, dan Gading.

Meskipun beberapa perubahan terjadi seiring waktu, keberadaan Pasar Kliwon tetap menjadi tonggak sejarah dan kekayaan budaya bagi masyarakat Kota Solo. (mg5/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#pasar kliwon #sejarah #Orang Arab #kota solo