SOLOBALAPAN.COM - Jika berbicara pertandingan sepak bola di Kota Solo, pikiran orang mungkin akan langsung tertuju pada Stadion Sriwedari dan Stadion Manahan.
Kedua lapangan itu memang masih aktif menjadi venue laga sepak bola sejak didirikan sampai sekarang.
Namun, tahukah Anda lapangan yang digunakan sebagai titik digelarnya sebuah pertandingan sepak bola di Kota Solo sebelum adanya dua stadion tersebut?
Penelusuran Jawa Pos Radar Solo kiranya bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Tempat yang dimaksud ternyata adalah Lapangan Pamedan di Pura Mangkunegaran.
Lapangan itu disebut-sebut sudah digunakan sebagai venue pertandingan sepak bola pada tahun 1920an
Beberapa tahun sebelum Stadion Sriwedari berdiri pada 1933, lapangan di Pura Mangkunegaran jadi salah satu titik masyarakat pribumi dan kaum Belanda bermain sepak bola.
Menariknya, pada tahun 1925, berdiri dua organisasi selain VVB di Kota Solo.
Organisasi tersebut adalah IVB yang juga anggotanya kaum pribumi, dan SVB yang anggotanya adalah etnis Tionghoa dan orang-orang Belanda.
VVB dan SVB biasanya bertanding di alun-alun selatan, sementara IVB bertanding di lapangan Mangkunegaran.
Beberapa tim dari luar kota seperti dari Surabaya, Jakarta, hingga Semarang sempat bertanding di lapangan Pamedan.
Saat pertandingan digelar, para anggota Legiun Mangkunegaran pasti berjaga-jaga di setiap sudut.
Mereka mengantisipasi andai kata ada kericuhan yang terjadi antar penonton, atau pemain yang bertanding.
Legiun Mangkunegaran adalah korps angkatan bersenjata Kadipaten Mangkunegaran.
Hampir setiap sore lapangan Pamedan rutin menggelar pertandingan sepak bola.
“Dulu di Pura Mangkunegaran memang ada lapangan sepak bola," ucap Hong Widodo.
"Lapangan di Mangkunegaran tidak ada rumputnya, tapi kalau main disana yang nonton banyak sekali."
"Mereka duduk di pinggir lapangan. Bisa dibilang jadi hiburan warga Solo di sore hari kala itu,” papar legenda Persis Solo di era 1960 an hingga 1970an.
Hal tersebut diamini mantan pemain Persis era 1960 an-1977 lainnya, yakni Frans Setiabudi.
Pria yang akrab disapa Wewek tersebut mengakui bahwa Lapangan Pamedan (nama lain lapangan sepak bola di Pura Mangkunegaran) hanya berupa pasir dan tandus.
Walau begitu di zaman dulu lapangan ini jadi rujukan utama pemain-pemain potensial untuk berlatih.
“Zaman saya masih jadi pemain Persis, lapangan Pamedan sering sekali saya gunakan."
"Kalau Persis latihannya selalu di Sriwedari, namun saat saya main dengan tim TNH (Tunas Nusa Harapan) yang sebagian besar pemainnya Tionghoa, kami main di lapangan ini."
"Seminggu dua kali seingat saya,” terang Wewek.
Dia mengakui bahwa lapangan Pamedan mulai hilang sekitar pertengahan 1970 an.
Saat dia pensiun di dari Persis tahun 1977, lapangan ini sudah sepi dari aktivitas olahraga.
“Lapangan tidak digunakan lagi karena dibangun hotel Mangkunegaran."
"Hotelnya akhirnya bubar dan jadi lahan mangkrak juga setelah itu."
"Sampai akhirnya kini dimanfaatkan jadi lahan parkir,” ujarnya yang ikut membawa Persis menjadi juara perserikatan zona Jateng musim 1968/1969 tersebut.
Wewek mengakui TNH kala itu tak hanya menggunakan lapangan di Pamedan, beberapa lapangan lainnya digunakan.
Ini lantaran di zaman dulu satu tim internal Solo sudah banyak, jadi penggunaan lapangan harus bergantian.
“Kalau tidak salah TNH kala itu main di Pamedan setiap hari Senin dan Rabu. Hari lainnya digunakan klub lokal lainnya."
"Kalau tidak salah HWM juga ikut latihan di Pamedan."
"Selain di Pamedan, kami (TNH) juga latihan di lapangan lain, seperti di Kartopuran, Cengklik (sekarang jadi Stadion Mini Surakarta) dan Sriwaru."
"Setelah Pamedan gak bisa digunakan lagi, akhirnya TNH pindah ke lapangan di timur Solo Square, yang kini lapangan itu juga sudah tidak ada,” ujarnya
Setelah hilang ditelan zaman, Lapangan Pamedan kini berganti wajah.
Kini lapangan tersebut sudah berubah menjadi areal parkiran dan juga lokasi yang biasanya digunakan masyarakat umum untuk menggelar acara kesenian, hingga kebudayaan. (nik/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro