Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perang Belasting 1908, Perlawanan Rakyat Minangkabau Menentang Pajak Kolonial Belanda

Adi Pras
Penulis: Adi Pras❯
Ilustrasi Perang Belasting di Sumatera Barat pada tahun 1908. (AI Generated)
Ilustrasi perang Belasting di Sumatera Barat pada tahun 1908. (AI Generated)

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM - Pajak yang seharusnya menjadi kewajiban dalam sebuah pemerintahan justru pernah menjadi pemicu perlawanan besar di Sumatera Barat.

Pada 1908, masyarakat Minangkabau bangkit menentang kebijakan pajak yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai Perang Belasting, sebuah perlawanan yang memperlihatkan keberanian rakyat mempertahankan hak atas tanah dan harta warisan mereka. Istilah "belasting" berasal dari bahasa Belanda yang berarti pajak.

Kebijakan ini diberlakukan pemerintah Hindia Belanda di wilayah Minangkabau pada awal abad ke-20. Namun, persoalannya bukan sekadar kewajiban membayar sejumlah uang.

Bagi masyarakat setempat, kebijakan tersebut dianggap sebagai bentuk campur tangan kolonial terhadap hak adat yang telah mereka pegang secara turun-temurun. 

Advertisement

Berawal dari Kebijakan Pajak yang Bertentangan dengan Adat

Salah satu latar belakang Perang Belasting berkaitan dengan Plakat Panjang yang dikeluarkan pemerintah kolonial pada 1833.

Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari strategi Belanda untuk memperoleh pengaruh di Minangkabau setelah Perang Padri.

Dalam ingatan masyarakat, Plakat Panjang juga berkaitan dengan janji pemerintah kolonial untuk tidak membebani rakyat dengan pajak. Namun, memasuki awal abad ke-20, pemerintah Belanda mulai menerapkan kebijakan belasting.

Salah satu hal yang memicu kemarahan masyarakat adalah penetapan harta pusaka sebagai objek pajak.

Padahal, harta pusaka, termasuk tanah dan sawah, merupakan warisan turun-temurun yang memiliki kedudukan penting dalam sistem adat Minangkabau.

Advertisement

Artikel Terkait

Namaku Alam: Kisah Anak yang Tumbuh dengan Bayang-Bayang Sejarah Kelam Indonesia

Namaku Alam: Kisah Anak yang Tumbuh dengan Bayang-Bayang Sejarah Kelam Indonesia

Novel "Namaku Alam" karya Leila S. Chudori membawa pembaca untuk mengenal Alam lebih dekat.

Perlawanan Perempuan Mollo: Ketika Tenun Menjadi Senjata untuk Menyelamatkan Alam

Perlawanan Perempuan Mollo: Ketika Tenun Menjadi Senjata untuk Menyelamatkan Alam

Pada 2006 di Nusa Tenggara Timur terdapat aksi para ibu rumah tangga yang menenun di lokasi tambang marmer untuk menolak eksploitasi alam.

Ledhek Jimbe Blitar, Tari yang Dulu Distigma Negatif Ternyata Punya Jejak Perlawanan

Ledhek Jimbe Blitar, Tari yang Dulu Distigma Negatif Ternyata Punya Jejak Perlawanan

Perjuangan kaum perempuan pada zaman kolonialisme melawan para penjajah yang di abadikan dengan sebuah karya tari, Tari Ledhek Jimbe.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer