Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kali Angke, Sungai di Jakarta yang Menyimpan Kisah Berdarah Geger Pecinan

t
Penulis: tim solobalapan❯
Ilustrasi Kali Angke atau Cikeumeuh, sungai yang melintasi Jawa Barat, Banten, dan Jakarta yang bermuara sampai di Laut Jawa dekat Muara Angke, Jakarta Barat. (AI Generated)
Ilustrasi Kali Angke atau Cikeumeuh, sungai yang melintasi Jawa Barat, Banten, dan Jakarta yang bermuara sampai di Laut Jawa dekat Muara Angke, Jakarta Barat. (AI Generated)

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah padatnya kehidupan Jakarta, Kali Angke menyimpan kisah kelam yang telah melekat dalam ingatan sejarah kota.

Sungai ini kerap dikaitkan dengan tragedi pembantaian warga Tionghoa oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1740.

Dari peristiwa tersebut, muncul cerita bahwa nama Angke berasal dari istilah yang berarti “sungai merah”, sebuah sebutan yang merujuk pada darah para korban yang memenuhi aliran sungai.

Peristiwa itu dikenal sebagai Geger Pecinan, salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam pada masa kolonial di Batavia, yang kini menjadi Jakarta.

Meski kisah asal-usul nama Angke memiliki lebih dari satu versi, hubungannya dengan tragedi tersebut membuat sungai ini tidak sekadar menjadi bagian dari lanskap kota, tetapi juga pengingat akan kekerasan yang pernah terjadi pada masa lalu.

Advertisement

Geger Pecinan 1740, Tragedi yang Mengguncang Batavia

Geger Pecinan terjadi pada Oktober 1740, ketika ketegangan antara pemerintah kolonial VOC dan masyarakat Tionghoa di Batavia memuncak. Kebijakan kolonial yang menekan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Tionghoa, disertai persoalan izin tinggal dan kekhawatiran mengenai pengusiran, turut memperburuk keadaan.

Konflik kemudian berkembang menjadi kekerasan massal. Pada 9 Oktober 1740, pembantaian terhadap masyarakat Tionghoa mulai terjadi dan mencapai puncaknya pada hari-hari berikutnya. Di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, ribuan orang Tionghoa menjadi korban. Sejumlah sumber sejarah memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 7.000 hingga 10.000 orang.

Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan luka bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga mengubah kehidupan sosial dan politik Batavia. Kekerasan tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian konflik yang meluas ke berbagai wilayah di Jawa.

Mengapa Disebut Kali Angke?

Salah satu versi yang berkembang di masyarakat menghubungkan nama Angke dengan bahasa Hokkian. Nama tersebut dimaknai sebagai “sungai merah”. Sebutan ini dikaitkan dengan kisah jenazah korban pembantaian yang dibuang ke sungai sehingga airnya berubah menjadi merah.

Kisah tersebut membuat nama Angke lekat dengan ingatan tentang tragedi 1740. Dalam sejumlah tulisan sejarah populer, peristiwa itu juga disebut sebagai Tragedi Angke atau Tragedi Sungai Merah.

Advertisement

Artikel Terkait

Perlawanan Perempuan Mollo: Ketika Tenun Menjadi Senjata untuk Menyelamatkan Alam

Perlawanan Perempuan Mollo: Ketika Tenun Menjadi Senjata untuk Menyelamatkan Alam

Pada 2006 di Nusa Tenggara Timur terdapat aksi para ibu rumah tangga yang menenun di lokasi tambang marmer untuk menolak eksploitasi alam.

Tragedi Mencekam di Bromo! Pemadaman Karhutla Telan 4 Korban Jiwa, Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

Tragedi Mencekam di Bromo! Pemadaman Karhutla Telan 4 Korban Jiwa, Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

Kebakaran hutan di kawasan Bromo menelan 4 korban jiwa dari petugas TNBTS dan relawan. Gubernur Khofifah sampaikan duka mendalam.

Fenomena Mengerikan di Sungai Thames: Ratusan Orang Tewas dalam Tragedi Princess Alice

Fenomena Mengerikan di Sungai Thames: Ratusan Orang Tewas dalam Tragedi Princess Alice

Pada 3 September 1878, kapal wisata Princess Alice tenggelam di Sungai Thames setelah bertabrakan dengan Bywell Castle. Sekitar 640–650 orang tewas dalam salah satu tragedi pelayaran paling mematikan di Inggris.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer